Friday, November 25, 2011

IQRO

بسم الله الرحمن الرحيم
MEMBACA TANDA-TANDA KEBESARAN ALLAH

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ (١) خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ (٢) ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ (٣) ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ (٤) عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ (٥)

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ayat ini tercantum dalam surat Al ‘Alaq yang artinya segumpal darah. Malaikat Jibril menyampaikannya kepada Muhammad pada waktu beliau berusia 40 tahun. Dengan turunnya ayat ini maka resmilah Muhammad dipilih oleh Allah menjadi seorang Rosul yang bertugas untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada umat manusia.
Ketika Malak Jibril menyampaikan ayat ini, Rosulullah menjawab, “Saya tidak bisa memb aca”, “Bacalah”, Rosul menjawab lagi, “Saya tidak bisa memb aca”, demikian sampai tiga kali. Kemudian Jibri melanjutkan, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Mulia, yang telah mengajari manusia dnegan perantaraan pena, Dia memngajarkan kepada msnuaia, tentang apa-apa yang tidak diketahuinya.”
Nabi Muhammad pada saat itu, tidak bisa membaca. Kedatangan Jibril kepada Nabi Muhammad untuk menyuruh membaca, tentulah bukan sebuah kekeliruan atau sebuah ketidaktahuan, karena yang diperintahkannya bukan untuk membaca sebuah tulisan, melainkan membaca dalam pengertian yang selusas-luasnya tentang kekuasaan dan kebesaran Al Kholiq yang telah menciptakan manusia.
Allah telah mengajari manusia dengan perantaran pena, dan mengajari manusia tentang apa-apa yang tidak diketahuinya. Fenomena-fenomena alam merupakan “goresan pena Allah” yang harus dibaca, dipelajari, dieksplorasi untuk kemanfaatan seluruh alam. Allah hanya memberikan kemampuan meneliti dan mengeksplorasi alam ini kepada manusia, tidak kepada makhluk-makhluk yang lain.
Firman Allah dalama Surat Al Ahzab ayat 72:
إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَہَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ ظَلُومً۬ا جَهُولاً۬

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,



Manusia merupakan makhluk yang telah diberi berbagai potensi oleh Allah untuk mampu mengelola alam buat kesejahteraan manusia, tapi manusia itu terkadang zalim kepada dirinya dan bersifat bodoh. Kezaliman yang dilakukan manusia itu adalah dalam bentuk pengingkaran terhadap kekuasaan Allah. Berbagai fenomena yang terjadi pada alam, hanyalah dianggap sebagai sebuah “hukum alam” biasa. Mengapa api itu bersisfat panas, dianggapnya hanyalah sebuah hukum alam saja. Kezaliman manusia itu akan semakin dahsyat, tatkala alam itulah yang dipertuhankan olehnya. Bukankah kemusyrikan itu merupakan kezaliman yang besar, sebagaimana diterangkan dalam Surat Luqman ayat 13.
إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ۬
“ Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Penelitian dan pengkajian yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu, tidak memberikan pencerahan yang bisa melahirkan kesadaran terhadap keberadaan pencipta alam, bahkan menimbulkan rasa kesombongan dan ketakaburan. Di sinilah kebodohannya. Jadi bodohnya itu bukan dalam arti tidak berilmu, melainkan dengan ilmunya itu tidak bisa menerima kebenaran yang hakiki.
Bagi seorang yang beriman, hukum alam itu adalah sunatullah yakni ketentuan Allah, maka dari situlah titik awal seorang mu’min untuk meneliti, memperhatikan, mempelajari dan mengkaji alam semesta. Sehingga proses pengkajiannya itu akan mampu memperdalam keyakinan terhadap kebesaran Al Kholiq Pencipta alam semesta. Jika dia belum mampu melakukan penelitian secara ilmiah terhadap sesuatu fenomena alam, maka dia akan mengucapkan Wallahu a’lam, hanya Allah yang Mahatahu segala sesuatu. Tidak ada sedikit pun perasaan bahwa dirinya serba tahu dan lebih tahu dari pencipta alam semesta. Dengan demikian tidak ada rasa takabur, rasa menyomboingkan diri, karena hanya Allah Yang Maha Besar dan Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tugas memakmurkan bumi ini hanya diberikan Allah kepada manusia, tidak kepada malaikat, tidak pula kepada makhluk-makhluk lain seperti jin, hewan dan sebagainya, karena Allah Mahatahu bahwa yang memiliki potensi untuk itu hanya makhluk yang namanya manusia. Potensi yang diberikan Allah sebagai perangkat yang dimiliki manusia adalah al ‘aqlu (akal) yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Akan tetapi jika diserahkan hanya kepada akal saja, manusia kadang-kadang bisa salah mengambil keputusan. Sesuaatu yang benar menurut akal manusia, belum tentu merupakan kebenaran yang sesungguhnya. Oleh karena itu kebenaran yang dihasilkan akal manusia adalah kebenaran yang nishbi (relaatif), kebenaran yang bersifat kondisional, sedangkan kebenaran yang berasal dari Allah adalah kebenaran yang mutlak.

Sebagai sebuah ilustrasi, marilah kita lihat tatkala kita berdiri di jalan kereta api yang lurus, maka tampak di ujung sana kedua jalur rel itu seolah-olah berhimpit dan merapat, padahal tidak demikian. Atau kita perhatikan, jika sebatang tongkat yang lurus, kita celupkan ke kolam air yang bening, maka tampak oleh mata kita sepertinya tongkat itu bengkok. Kalau hal itu dibenarkan, maka manusia akan mengambil sebuah keputusan yang keliru. Jadi potensi yang ada pada manusia itu memiliki keterbatasan. Kalau begitu, manusia masih perlu diberikan perangkat lain yakni hidayah ( petunjuk) yang akan senantiasa menerangi perjalanan mansuia menuju kepada titik tujuan terakhir (final goal) yaitu keridhoan AllahS WT.

Petunjuk itu sekarang usdah ada lengkap di hadapan kita, tinggal kita mau menggunakannya atau tidak? Allah berfirman: dalam Al Baqoroh ayat 2:
ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ

“Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”

Al Qur’an itulah yang akan mengarahkan kita menuju keridhoan Allah melalui jalan yang lurus. Jalan lurus itu adalah jalan yang dilalui oleh para Rosul Allah, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan yang sesat. Islam itulah jalan yang lurus yaitu jalan yang paling dekat dan paling tepat untuk mengantarkan manusia kepada keridhoan Allah SWT.
Billahit taufiq wal hidayah










.

Wednesday, November 16, 2011

RISALAH AQIQAH

RISALAH AQIQAH
Pengertian Aqiqah
Kata aqiqah berasal dari bahasa Arab aqq yang berarti memotong atau memutus. Ada pula yang mengartikan bahwa aqiqah adalah sebutan terhadap hewan yang disembelih. Disb ut demikian karena memang hewan itu lehernya dipotong. Ada pula yang mengartikan aqiqah adalah rambur bayi yang dibawa sejak lahir. Karena ambut itu dipotong pula demi kebersihan dan kesehatan sang bayi.
Makna aqiqah menurut syari’at Islam adalah menyembelih hewan kambing pada hari ketujuh kelahiran bayi sebagai ungkapan rasa syukur atas kaarunia Allah SWT berupa kelahiran seorang anak.
Hukum Aqiqah
Hukum aqiqah adalah sunah mu’akadah, artinya sunah yang sangat dianjurkan. Hal inilah yang m,ernjadi paham mayorits ulama.
Sebuah Hadis Rosulullah saw menyatakan. (KULLU GHULAMUN MUMTAHANUN BI ‘AQIQOTIHI”“ Setiap anak tertuntut dengan aqiqahnya.”
Hadis lain riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad, mengemukakan bahwa Rosulullah bersabda,” Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka sembelihlah penebus darinya dan bersihkanlah dari kotoran.” (HR Bukhori dan Ahmad).
Perkataan Nabi saw dnegan kata “sembelihlah” merupakan perintah yang menunjukkan hukum wajib. Namun ada keterangan lain yang memalingkannya dari hukum waji menjadi sunat yaitu keterangan dari Rosulullah yang menyatakan, “Brang siapa di antara kalian ada yang ingin menyembelh atas kelahiran anaknya, maka selakan lakukan.” (HR Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i)

Ada hadis Rosuluullah yang mengemukakan bahwa anak laki-laki aqiqahnya dua ekor kambang sedangkan anak perempuan satu ekor kambing. Hal ini akan berkaitan erat dengan tanggung jawab sosial seorang laki-laki dan seorang perempuan kelak setelah dewasa.
Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor domba dan dari anak perempuan satu ekor.” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa aqiqah bagi anak laki-laki sama dengan aqiqah bagi anak perempuan yaitu satu ekor kambing. Hal ini didasarkan kepada riwayat bahwa Rosulullah SAW melakukan aqiqah bagi Hasan dengan satu ekor kambing dan Husein dengan satu ekor kambing juga.

Waktu Pelaksanaannya
Pelaksanaan aqiqah disunahkan pada hari ketujuh dari kelahiran. Hal ini berdasarkan hadis Rosulullah saw. “ Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ketujuh, dan dia dicukur dan diberi nama.” (HR Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi).

Apabila tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh,maka bisa pada hari keempat belas, jika masih belum bisa juga, maka pada hari kedua puluh satu (Berdasarkan hadis riwayat Al Baihaqi). Namun jika hari keduapuluh satu masih belum bisa juga, maka bisa dilakukan kapan saja di kala mampu. Bahkan apabila sampai dewasa belum juga disembelihkan aqiqah oleh orang tuanya, ia boleh menyembelih aqiqah dari hasil usahanya sendiri.

Pembagian daging aqiqah

Orang tua bayi boleh menyedekahkan sebagian atau seluruhnya dan boleh pula memakannya maksimal sepertiganya, atau memasaknya dan mengudang para tetangga, sahabat, fakir-miskin dan lain-lain untuk bersama-sama menikmatinya.
Hewan yang disembelih untuk aqiqah persyaratannya sama dengan hewan untuk qurban. DI antara syarat-syarat itu ialah tidak boleh hewan yang terlalu kurus, pincang, atau anggota badannya cacat. Para ulama membolehkan mengganti kambing dengan sapi atau unta, tapi sapi atau unta itu hanya untuk satu orang anak, tidak seperti qurban, di mana seekor sapi atau unta bisa patungan untuk tujuh orang. Tetapi sebagian ulama berpendapat bahwa aqiqah hanya dengan kambing saja, sesuai dengan dalil-dalil yang datang dari Rosulullah SAW.
Ada perbedaan dalam pembagian daging qurban dengan aqiqah yaitu kalau daging qurban dibagikan dalam baentuk mentah sedangkan daging aqiqah boleh dibagikan setelah dimasak terleblih dahulu.

Hikmah Aqiqah

Syaih Abdullah Nasih ZUlwan peangarang kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam mengemukakan hikmah aqiqah sebagai berikut:

1. Mengikuti dan menghidupkan sunah Rosulullah
2. Melindungi anak yang terlahir itu dari segala gangguan, sehingga anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya Insya Allah taerlindungi dari gangguan syaitan.
3. Aqiqah merup[akan tebusan hutang si anak untuk dapat memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya kelak di yaumul hisab.
4. Sebagai bentuk taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan rasa syukur atas kaarunia-Nya berupa kelahiran sang anak.
5. Mewujudkan kegembiraan dalam melaksanakan syari’at Islam dan bertambahnya keturunan.
6. Aqiqah mempererat rasa persaudaraan santar sesame muslim.

Walaahu A’lam

Thursday, October 27, 2011

PENDIDIKAN AGAMA BAGI ANAK-ANAK USIA DINI


PENDIDIKAN AGAMA BAGI ANAK-ANAK
USIA DINI
Oleh Une Sasmita, S.IP
            Setiap orang tua yang memiliki rasa tanggung jawab, tentu berpendapat bahwa pendidikan agama perlu ditanamkan kepada jiwa anak sejak dini. Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda: “Didiklah anak-anakmu karena mereka akan hidup pada suatu jaman yang berbeda dengan jaman kamu.” Namun yang agaknya menjadi permasalahan adalah bagaimana isi dan metode yang perlu diterapkan agar pendidikan itu bisa efektif terhunjam dalam jiwa anak hingga masa dewasanya bahkan hingga akhir hayatnya.
            Pendidikan agama yang paling mendasar yang perlu ditanamkan pada jiwa anak sejak dini meliputi tiga hal pokok yaitu:
            Pertama, pendidikan untuk mengenal kepada Yang Maha Pencipta. Ini adalah landasan pertama dan paling utama yang harus diperkenalkan kepada anak. Keyakinan tentang adanya Allah Yang Maha Pencipta merupakan pondasi yang paling dasar yang akan menopang seluruh rangkaian perjalanan hidup anak kita sepanjang hayatnya. Untuk mengenal Allah sebagai pencipta, maka kepada anak-anak perlu ditanamkan dasar-dasar logika  paling sederhana yaitu bahwa seluruh benda yang ada di sekitar kita seperti kursi, meja, televisi dan sebagainya, ada pembuatnya. Demikian pula  alam semesta berupa langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, seluruh makhluk hidup dan makhluk tidak hidup, tentu ada penciptanya. Itulah Allah Sang Pencipta. Mustahil benda itu terjadi sendirinya tanpa ada pembuatnya. Jika hal ini  kita tanamkan pada pikiran anak, berarti kita telah mengajarkan tentang sifat wujud bagi Allah. Keyakinan terhadap adanya Allah itulah yang merupakan prinsip pertama dalam  rukun Iman yang harus terlebih dahulu tertanam sebelum iman kepada malaikat, kitab-kitab, para rosul, hari kiyamat, dan iman kepada qodho dan qodar. Rukun iman yang kedua sampai keenam akan runtuh kalau rukun yang pertamanya goyah. Karena itu iman kepada Allah harus dimasukkan ke dalam jiwa anak sedini mungkin, sebelum mereka belajar tentang membaca, menulis, berhitung dan lain-lain.  
            Banyak cara yang bisa diterapkan oleh orang tua untuk mengenalkan Allah Maha Pencipta. Misalnya pada waktu orang tua membawa anaknya melihat gunung yang kelihatan biru, atau melihat air laut yang terus bergerak, atau air sungai yang mengalir meliuk-liuk, di situlah momentum yang tepat untuk mengisi memori otak
anak kita dengan rekaman tentang kebesaran Ilahi melalui kedahsyatan ciptaan-Nya. Menanamkan kebesaran Allah melalui dalil-dalil naqly yang dipetik dari ayat-ayat Al Qur’an atau Hadis Rosulullah, mungkin masih terlalu berat bagi anak, karena itu cara ini bisa ditunda sampai masa yang tepat.
            Kedua, pendidikan tentang ibadah kepada Allah. Ibadah adalah bentuk pengabdian kepada Allah. Dalam pengertian yang seluas-luasnya ibadah meliputi segala perbuatan baik yang diridoi Allah. Dalam pengertian yang sempit ibadah meliputi rukum islam yang lima, yakni syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Rukun islam yang lima itu merupakan bentuk ibadah yang sudah diatur tata caranya oleh Allah dan Rosul-Nya. Dalam terminology agama Islam itulah yang disebut ibadah mahdoh. Tidak boleh sedikit pun direkayasa oleh kita. Sedangkan ibadah dalam pengertian seluas-luasnya, itulah yang disebut dengan amal salih yakni segala amal perbuatan yang dapat mendatangkan manfat bagi diri pelakunya maupun bagi orang
lain. Adapun tatacara beramal salih, bisa diatur sendiri oleh kita. Misalnya, bagaimana kita berbuat baik kepada sesama manusia, banyak sekali bentuknya dan kita bebas untuk mengatur tata caranya.
            Inti dari segala ibadah adalah shalat lima waktu. Karena itulah Rosulullah memerintahkan dalam sebiuah hadisnya, “Perintahlah anak-anakmu shalat jika sudah usia tujuh tahun. Dan bila usia sepuluh tahun masih belum mau melaksanakan shalat, maka pukullah.” Perintah memukul di sini tentu pukulan sebagai tindakan edukatif.
            Menanamkan kesadaran terhadap shalat lima waktu bagi anak-anak usia dini yang paling efektif adalah melalui pembiasaan. Orang tua hendaknya lebih banyak mengajak daripada menyuruh. Metode pemberian contoh secara  demonstratif akan lebih efektif daripada pemberian tugas atau perintah.
            Ketiga, pendidikan tentang ihsan yaitu sikap dan sifat komitmen kepada kebaikan karena mempunyai keyakinan bahwa segala perilakunya diawasi oleh Allah. Ihsan berasal dari kata hasan yang berarti baik. Pada waktu Rosulullah s.a.w. ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah ihsan itu?” Jawab Rosul, “ Ihsan itu adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau (Hadis Riwayata Bukhori).
 Menanamkan sifat ihsan kepada anak-anak berarti menanamkan kesadaran bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah Yang Maha Melihat. Kalau keyakinan ini tertanam kokoh pada jiwa anak, maka keyakinan inilah yang akan membentengi jiwa anak sepanjang hayatnya dari perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Dia akan
menyadari  bahwa tidak  ada lahan  yang bisa dijadikan tempat bersembunyi dari
pandangan Allah, sehingga dia melakukan suatu kebaikan bukan karena takut oleh manusia atau karena diperintah oleh orang tua melainkan atas dasar kesadaran pribadi yang timbul dari keimanan kepada Allah. Sikap dan sifat ini sangat penting untuk dijadikan bekal oleh anak dalam mengarungi pergaulan hidup kelak di tengah msyarakat. Dia tidak melakukan kejahatan bukan karena takut oleh polisi atau oleh orang lain, melainkan karena yakin bahwa perbuatannya akan dilihat oleh Allah.
Ketiga landasan itu dalam terminologi islam dikatakan dengan sebutan iman, islam dan ihsan. Tiga landasan itulah perlu kita tanamkan pada jiwa anak sedini mungkin karena ketiga-tiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk membentuk sebuah pribadi muslim yang utuh dan menyeluruh. Wallahu a’lam.
           

Saturday, October 8, 2011

PENDIDIKAN AGAMA BAGI ANAK


PENDIDIKAN AGAMA BAGI ANAK-ANAK
USIA DINI

            Setiap orang tua yang memiliki rasa tanggung jawab, tentu berpendapat bahwa pendidikan agama perlu ditanamkan kepada jiwa anak sejak dini. Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda: “Didiklah anak-anakmu karena mereka akan hidup pada suatu jaman yang berbeda dengan jaman kamu.” Namun yang agaknya menjadi permasalahan adalah bagaimana isi dan metode yang perlu diterapkan agar pendidikan itu bisa efektif terhunjam dalam jiwa anak hingga masa dewasanya bahkan hingga akhir hayatnya.
            Pendidikan agama yang paling mendasar yang perlu ditanamkan pada jiwa anak sejak dini meliputi tiga hal pokok yaitu:
            Pertama, pendidikan untuk mengenal kepada Yang Maha Pencipta. Ini adalah landasan pertama dan paling utama yang harus diperkenalkan kepada anak. Keyakinan tentang adanya Allah Yang Maha Pencipta merupakan pondasi yang paling dasar yang akan menopang seluruh rangkaian perjalanan hidup anak kita sepanjang hayatnya. Untuk mengenal Allah sebagai pencipta, maka kepada anak-anak perlu ditanamkan dasar-dasar logika  paling sederhana yaitu bahwa seluruh benda yang ada di sekitar kita seperti kursi, meja, televisi dan sebagainya, ada pembuatnya. Demikian pula  alam semesta berupa langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, seluruh makhluk hidup dan makhluk tidak hidup, tentu ada penciptanya. Itulah Allah Sang Pencipta. Mustahil benda itu terjadi sendirinya tanpa ada pembuatnya. Jika hal ini  kita tanamkan pada pikiran anak, berarti kita telah mengajarkan tentang sifat wujud bagi Allah. Keyakinan terhadap adanya Allah itulah
2
yang merupakan prinsip pertama dalam  rukun Iman yang harus terlebih dahulu tertanam sebelum iman kepada malaikat, kitab-kitab, para rosul, hari kiyamat, dan iman kepada qodho dan qodar. Rukun iman yang kedua sampai keenam akan runtuh kalau rukun yang pertamanya goyah. Karena itu iman kepada Allah harus dimasukkan ke dalam jiwa anak sedini mungkin, sebelum mereka belajar tentang membaca, menulis, berhitung dan lain-lain.     
            Banyak cara yang bisa diterapkan oleh orang tua untuk mengenalkan Allah Maha Pencipta. Misalnya pada waktu orang tua membawa anaknya melihat gunung yang kelihatan biru, atau melihat air laut yang terus bergerak, atau air sungai yang mengalir meliuk-liuk, di situlah momentum yang tepat untuk mengisi memori otak
anak kita dengan rekaman tentang kebesaran Ilahi melalui kedahsyatan ciptaan-Nya. Menanamkan kebesaran Allah melalui dalil-dalil naqly yang dipetik dari ayat-ayat Al Qur’an atau Hadis Rosulullah, mungkin masih terlalu berat bagi anak, karena itu cara ini bisa ditunda sampai masa yang tepat.
            Kedua, pendidikan tentang ibadah kepada Allah. Ibadah adalah bentuk pengabdian kepada Allah. Dalam pengertian yang seluas-luasnya ibadah meliputi segala perbuatan baik yang diridoi Allah. Dalam pengertian yang sempit ibadah meliputi rukum islam yang lima, yakni syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Rukun islam yang lima itu merupakan bentuk ibadah yang sudah diatur tata caranya oleh Allah dan Rosul-Nya. Dalam terminology agama Islam itulah yang disebut ibadah mahdoh. Tidak boleh sedikit pun direkayasa oleh kita. Sedangkan ibadah dalam pengertian seluas-luasnya, itulah yang disebut dengan amal salih yakni segala amal perbuatan yang dapat mendatangkan manfat bagi diri pelakunya maupun bagi orang
3
lain. Adapun tatacara beramal salih, bisa diatur sendiri oleh kita. Misalnya, bagaimana kita berbuat baik kepada sesama manusia, banyak sekali bentuknya dan kita bebas untuk mengatur tata caranya.
            Inti dari segala ibadah adalah shalat lima waktu. Karena itulah Rosulullah memerintahkan dalam sebiuah hadisnya, “Perintahlah anak-anakmu shalat jika sudah usia tujuh tahun. Dan bila usia sepuluh tahun masih belum mau melaksanakan shalat, maka pukullah.” Perintah memukul di sini tentu pukulan sebagai tindakan edukatif.
            Menanamkan kesadaran terhadap shalat lima waktu bagi anak-anak usia dini yang paling efektif adalah melalui pembiasaan. Orang tua hendaknya lebih banyak mengajak daripada menyuruh. Metode pemberian contoh secara  demonstratif akan lebih efektif daripada pemberian tugas atau perintah.
            Ketiga, pendidikan tentang ihsan yaitu sikap dan sifat komitmen kepada kebaikan karena mempunyai keyakinan bahwa segala perilakunya diawasi oleh Allah. Ihsan berasal dari kata hasan yang berarti baik. Pada waktu Rosulullah s.a.w. ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah ihsan itu?” Jawab Rosul, “ Ihsan itu adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau (Hadis Riwayata Bukhori).
 Menanamkan sifat ihsan kepada anak-anak berarti menanamkan kesadaran bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah Yang Maha Melihat. Kalau keyakinan ini tertanam kokoh pada jiwa anak, maka keyakinan inilah yang akan membentengi jiwa anak sepanjang hayatnya dari perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Dia akan
menyadari  bahwa tidak  ada lahan  yang bisa dijadikan tempat bersembunyi dari
pandangan Allah, sehingga dia melakukan suatu kebaikan bukan karena takut oleh manusia atau karena diperintah oleh orang tua melainkan atas dasar kesadaran pribadi yang timbul dari keimanan kepada Allah. Sikap dan sifat ini sangat penting untuk dijadikan bekal oleh anak dalam mengarungi pergaulan hidup kelak di tengah msyarakat. Dia tidak melakukan kejahatan bukan karena takut oleh polisi atau oleh orang lain, melainkan karena yakin bahwa perbuatannya akan dilihat oleh Allah.
Ketiga landasan itu dalam terminologi islam dikatakan dengan sebutan iman, islam dan ihsan. Tiga landasan itulah perlu kita tanamkan pada jiwa anak sedini mungkin karena ketiga-tiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk membentuk sebuah pribadi muslim yang utuh dan menyeluruh. Wallahu a’lam.