Wednesday, February 13, 2013

NABI ISA A.S MENURUT AL QUR'AN

AL Qur'an memberikan koreksi atas kekeliruan pandangan kaum Yahudi dan Nasrani terhadap Isa a.s. Kaum Yahudi tidak mengagumi atas kelahiran Isa a.s.bahkan menuduh bahwa Isa adalah anak Maaryam hasil dari perzinaan.  Lain halnya dengan kaum Nasrani yang yang sangat mengagungkan Isa sehngga dianggap sebagai Kristus, anak Allah yang diturunkan ke dunia sebagai juru selamat.
Kelahiran Isa a.s tanpa ayah, menurut AL Qur,an merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah. Tidak ada perkara mustahil menurut ALlah. Sebagaimana Nabi Adam yang diciptakan Allah tanpa ayah dan tanpa ibu. Dengan demikianl Al Qur'an tidak merendahkan Isa sebagai anak haram sebagaimana anggapan kaum Yahudi  dan tidak pula menjunjungnya menjadi Kristus. 

Islam menempatkan Isa a.s sebagai Rosul dan Nabi yang diutus oleh Allah sebagaimana dikatkakan dalam AL Qur'an Surat Maryam ayat 30:


[19:30] Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

Sunday, February 10, 2013

HARGA SEBUAH DEMOKRASI



                    


                         DEMOKRASI DAN PEMBIASAN

                                 IDEALISME RAKYAT

            

Demokrasi secara  etimologis berasal dari bahasa Yunani demos artinya rakyat dan cratos  artinya kekuasaan. Jadi demokrasi  merupakan sistem pemerintahan negara yang meletakkan kedaulatannya di tangan rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau pun melalui perwakilan (demokrasi perwakilan). Istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles di Athena sekitar abad ke 5 SM, sebagai suatu bentuk pemerintahan yang menetapkan  bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat). Dalam pemahaman yang lebih populer dikenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

PENYAKIT KITA DAN OBAT PENYEMBUHNYA

Yang saya maksud dengan penyakit kita pada judul itu adalah penyakit kita selaku orang Islam. Kita sedang mengidap suatu penyakit yaitu penyakit perpecahan. Umat Islam tidak lagi menjadi saatu umat yang utuh teguh seperti masa Rosulullah. Kita senang bercerai berai sehingga hilang semua kekuatan kita. Kita tidak lagi ditakuti oleh musuh-mush kita bahkan menjadi sebuah permainan musuh kita. Bagaikan macan yang dimainkan oleh pawangnya.

Penyakit kita yang demikian ini sudah disinyalir oleh Rosulullah tatkala beliau masih hidup di tengah-tengah ummatnya. Sabda beliau:


“Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”. 
(HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan juga mirip dengannya dari hadits Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu)


Perpecahan kita terjadi karena kita sudah jauh meninggalkan keteladanan Rosulullah, tidak terasa kita menjauhi sunah beliau sejengkal demi sejengkal akhirnya semakin jauh. Apa-apa yang sudah sempurna dalam sunah beliau tapi kita masih ingin menambah-nambahnya lagi karena merasa ingin lebih sempurna lagi. Lalu kita kerjakan apa yang tidak pernah dikerjakan oleh beliau dan kita lakukan apa-apa yang tidak pernah disuruh dan tidak dianjurkannya. Akhirnya timbullah ishraf  atau sikap berlebihan dalam ibadah yang seolah-olah kita beranggapan bahwa apa-apa yang telah dicontohkan oleh Rosulullah itu masih kurang sempurna. Akibatnya setiap orang berbuat menurut persepsinya masing-masing sehingga tatkala ditunjukkan perbuatan yang sesuai dengan sunnah Rosulullah, dianggaplah bahwa hal itu sebagai sesuatu yang baru. 

Tuesday, January 29, 2013

ROSUL MENURUT AL QUR'AN

Al Qur'an memberikan penjelasan bahwa rosul adalah manusia pilihan Allah yang diberi wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia. Pilihan ini dijatuhkan berdasarkan kualitas kepribadian yang dimiliki seorang rosul yaitu memiliki sifat shidiq (jujur), amanah (terpercaya) tabligh (menyampaikan) dan fathonah (cerdas). Manusia yang memiliki standar kualitas demikianlah yang akan mampu menerima pesan-pesan Allah berupa wahyu. Akan tetapi sebagai manusia biasa, seorang rosul tetap memiliki sifat-sifat dasar manusia seperti makan, tidur, jalan-jalan dan sebagainya yang tidak menyebabkan terdegradasinya sifat-sifat kemuliaan yang dimilikinya. Inilah yang dalam terminologi Islaaim disebut sifat "A'rodhul basyariyah" artiya sifat-sifat sebagai menusia.
Inti ajaran yang dibawa oleh para rosul itu adalah sama, yaitu mengajarkan manusia untuk menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Allah (La Ilaaha ilallaah). Sebagai manusia pilihan Allah, rosul itu tetap saja manusia, tidak naik derajatnya kepada derajat ketuhanan, atau menjadi  anak Tuhan. (Katakanlah, Allah itu Esa, Allah tempat semua makhluk menggantungkan pengharapan, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya). 
Terputusnya informasi kerasulan antara masa rosul satu dengan lainnya menimbulkan penafsiran seolah-olah agama yang dibawa para rosul itu bermacam-macam. Padahal para rosul itu mebawakan Islam yaitu agama tetang kepatuhan hanya kepada Allah. "Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah adalah Islam." (Ali Imran 19). 
Namun banyak manusia mengira bahwa Allah itu menciptakan tiga jenis agama yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Mereka mengelompokkan para rosul bahwa Ibrahim, Ishaq, dan Ya'kub sebagai pembawa agama Yahudi sedangkan kalangan Nasrani beranggapan bahwa seluruh rosul itu adalah membawa ajaran Nasrani kecuali nabi Isa yang diimaninya sebagai anak tuhan, ada pun nabi Muhammad tidak diakuinya sebagai rosul.
Al Qur'an tidak membedakan satu Rosul dari rosul lainnya, mereka adalah sama-sama sebagai pengemban tugas kerasulan.
[2:285] Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta'at." (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (AL Baqoroh 285)