Friday, December 16, 2011

PIKIR, DZIKIR, DAN SYUKUR


DZIKIR, PIKIR, DAN SYUKUR
SEBAGAI SARANA MEMPERTEGUH IMAN

MUKADDIMAH

M
anusia adalah makhluk Allah yang dikaruniai akal sebagai perangkat yang sangat penting dalam rangka pemanfaatan alam. Sebagai makhluk pemilik akal, manusia dalam Al Qur’an disebut  dengan sebutan “ulil albab” yang artinya pemilik akal, pemilik pikiran, pemilik  pengertian, atau pemilik  kebijaksanaan.

            Dalam surat Ali Imran ayat 190 dan 191 Allah berfirman:

إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (١٩٠) 
ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬ سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ (١٩١)
            Artinya:
  Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(seraya berkata), “Ya Allah kami, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia,Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Ciri-ciri orang  yang berakal, atau yang disebut oleh Allah dengan “ulil albab” yaitu :
1. Selalu dzikir (ingat) kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi.
2. Selalu memikirkan tentang penciptaan makhluk yang ada di langit dan di bumi.
3. Selalu bersyukur sebagai manipestasi dari kesadaran atas keagungan Maha Pencipta.

A. DZIKIR

Menurut bahasa, dzikir artinya ingat. Dalam hal ini ingat kepada Allah SWT. Dalam bentuk lisan, dzikir adalah mengucapkan “Laa Ilaaha illAllah” (Tidak ada
tuhan selain Allah). Namun pernyataan lisan saja tidak ada artinya kalau tidak diikuti dengan amal perbuatan yang sesuai dengan makna pernyataan yang diucapkan.

       Dalam pengertian yang seluas-luasnya, dzikir adalah memperhatikan kejadian alam sehingga akhirnya menyadari bahwa seluruh makhluk itu diciptakan oleh Al Kholik untuk dimanfaatkan oleh manusia dalam rangka pengabdian kepada-Nya.

Dzikir itu laksana tali yang menghubungkan antara diri kita dengan Al Kholik. Jika tali itu terputus maka hidup ini akan kehilangan kendali bagaikan layang-layang putus tali yang hanya bergerak mengikuti arah angin.

       Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 152:
           þ’ÎTrãä.øŒ$$sù öNä.öä.øŒr& (#rãà6ô©$#ur ’Í< Ÿwur Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ  
                                           Artinya:
       Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.

       Dalam sebuah hadis Qudsi Rosulullah bersabda
قال الله تبارك وتعالی وإذا تقرب مني شبرا تقربت ذراعا       
       Artinya:
       Telah berfirman Allah Yang Maha Suci dan Maha Luhur, “Apabila ia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku-pun mendekat kepadanya sehasta”. (Hadis Riwayat Bukhori dan Muslim)

       Allah itu Maha Mulia, maka alangkah terhormatnya orang yang selalu diingat oleh Allah Yang Maha Mulia. Diingat oleh Allah itu artinya senantiasa mendapatkan rahmat-Nya tanpa terputus.
  
 Dzikir atau ingat kepada Allah itu merupakan urusan hati yang indikatornya bisa terlihat dari amal perbuatan yang ditampakkannya.

       Allah berfirman dalam surat Al A’rof ayat 205:
ä.øŒ$#ur š­/§‘ ’Îû šÅ¡øÿtR %Y敎|Øn@ Zpxÿ‹Åzur tbrߊur ̍ôgyfø9$# z`ÏB ÉAöqs)ø9$# Íir߉äóø9$$Î/ ÉA$|¹Fy$#ur Ÿwur `ä3s? z`ÏiB tû,Î#Ïÿ»tóø9$# ÇËÉÎÈ  

       Artinya:
       Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang lalai.

B. P I K I R

       Manusia berpikir dengan menggunakan potensi akal sehat yang dimilikinya.
Produk berpikir adalah berupa ilmu pengetahuan, dan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya manusia akan ma’rifat kepada Allah, jika dikehendaki-Nya.
      
       Itulah sebabnya banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menganjurkan kepada manusia agar berpikir dengan akalnya. Allah sangat menghargai kepada orang-orang yang mau berpikir.
 Rosulullah s.a.w. bersabda:
تفکرا ساعة خير من عباد ة سنة ( رواه إبن حبان )                               
       Artinya:
                               Berpikir sesaat itu lebi baik daripada beribadah setahun (Riwayat Ibnu Hibban).
       Allah berfirman dalam surat Al Mujadalah (58) ayat 11:
( Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4
Artinya:

       Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berlimu pengetahuan dengan beberapa derajat.

       Yang menjadi obyek berpikir adalah makhluk ciptaan Allah karena akal manusia
tidak  mungkin memikirkan dzat Allah sebab Ia berada di luar jangkauan akal  serta tidak mungkin bisa dianalisis secara empiri oleh pemikiran manusia.

       Rosulullah bersabda:
  تفكروا في خلق الله ولا تفكروا فى الله  ( رواه البيهقی )
       Artinya:
       Berpikirlah kamu tentang makhluk ciptaan Allah dan janganlah kamu berpikir tentang dzat Allah. (Riwayat Abu Na’im dan Baihaki).

       Tanda-tanda kebesaran Allah bisa terlihat pada alam semesta dan pada diri kita

 Firman Allah dalam suarat Fusshilat (41) ayat 53:

óOÎgƒÎŽã\y™ $uZÏF»tƒ#uä ’Îû É-$sùFy$# þ’Îûur öNÍkŦàÿRr& 4Ó®Lym tû¨üt7oKtƒ öNßgs9 çm¯Rr& ‘,ptø:$# 3 öNs9urr& É#õ3tƒ y7În/tÎ/ ¼çm¯Rr& 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« Íky­ ÇÎÌÈ  

       Artinya:
       Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar.

       Allah menganjurkan agar manusia mulai berpikir dari obyek yang paling dekat yaitu dirinya sendiri kemudian benda-benda yang ada di sekitarnya akhirnya sampai kepada pemikiran yang menyeluruh terhadap seluruh alam semesta.


C. SYUKUR

       Berpikir merupakan  proses perenungan terhadap ciptaan Allah, sedangkan bersyukur   adalah memanfaatkan    segala ciptaan Allah itu sesuai  dengan
kehendak Pencipta-Nya. Semua karunia Allah itu perlu diolah dengan akal manusia agar kenikmatannya bisa bertambah.
     
 Dalam kaitan itulah Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7 :
ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯Ry‰ƒÎ—V{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) ’Î1#x‹tã Ó‰ƒÏ‰t±s9 ÇÐÈ  

Artinya:
       Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu ,mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.(Surat 14:7).

       Ayat-ayat mengenai syukur dalam Al Qur’an bisa ditemukan lebih dari 60 ayat di antaranya An Nisa (4): 147; Luqman (31): 12; An Nahl (16): 114 dan sebagainya.

       Seseorang belum disebut bersyukur kepada Allah, kalau kenikmatan yang diperolehnya itu belum dimanfaatkan untuk sesuatu yang diridoi Allah. Jadi apabila nikmat yang diberikan Allah itu digunakan untuk sesuatu tindakan yang dibenci oleh Allah atau dengan kata lain untuk maksiat kepada-Nya,maka orang demikian berarti mengingkari kenikmatan itu sendiri yang dalam terminologi Islam disebut dengan kufur nikmat.

       Kalau kenikmatan itu berupa harta kekayaan maka hartanya akan dibelanjakan di jalan Allah. Kalau kenikmatan itu berupa ilmu maka ilmunya akan diamalkan untuk kemaslahatan dirinya dan manusia di sekitarnya. Dan kalau kenikmatan itu berupa pangkat dan kedudukan, maka kedudukan itu akan dimanfaatkan sebagai medan beramal salih dalam rangka pengabdian kepada Allah.

       Sungguh banyak karunia Allah yang telah diberikan kepada kita. Dan sungguh banyak pula nikmat Allah yang belum tersyukuri.

Firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 34:
…4 bÎ)ur (#r‘‰ãès? |MyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB 3 ž…  

       Artinya:
       Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu untuk
menghitungnya. (Surat Ibrahum ayat 34).

       Dalam surat Luqman ayat 27 Allah berfirman:
öqs9ur $yJ¯Rr& ’Îû ÇÚö‘F{$# `ÏB >otyfx© ÒO»n=ø%r& ãóst7ø9$#ur ¼çn‘‰ßJtƒ .`ÏB ¾Ínω÷èt/ èpyèö7y™ 9çtø2r& $¨B ôNy‰ÏÿtR àM»yJÎ=x. «!$# 3 ¨bÎ) ©!$# ̓tã ÒOŠÅ3ym ÇËÐÈ  

       Artinya:
       Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi dijadikan pena dan lautan dijadikan tinta dan setelah kering kemudian ditambahkan lagi tujuh lautan, niscaya tidak akan cukup untuk menuliskan karunia Allah. (Luqman ayat 31)

KHATIMAH

       Dzikir, pikir, dan syukur merupakan trilogi yang saling berkait erat dan tidak bisa terpisahkan satu sama lain. Orang yang berdzikir pasti akan berpikir dan bersyukur. Sebaliknya pula orang yang tidak pernah berdzikir – tidak pernah ingat kepada Allah – tidak mungkin mau berpikir tentang kebesaran Allah dan tidak pula akan bersyukur atas segala karunia-Nya.

       Orang yang selalu ingat kepada Allah, pasti akan senantiasa menjaga segala perbuatannya dari tindakan-tindakan yang tidak diridoi-Nya. Dia akan memanfaatkan seluruh potensi dirinya, baik raga maupun jiwanya, untuk melasanakan ketaatan kepada Allah. Di kala ia mendapat kenikmatan, ia akan bersyukur dan di kala mendapat musibah ia akan bersabar.

       Bagaimana agar kita bisa mensyukuri nikmat Allah yang ada pada diri kita? Kita akan dapat mensyukuri nikmat, kalau nikmat yang kita miliki itu kita perbandingkan dengan nikmat yang lebih rendah yang ada pada orang lain.  Misalnya, kesehatan yang kita miliki, baru bisa kita sadar bahwa itu merupakan nikmat yang harus disyukuri, kalau kita perbandingkan dengan perasaan orang yang terganggu kesehatannya. Orang yang sakit matanya sebelah, masih akan bersyukur kalau ia perbandingkan dengan orang yang sakit kedua belah matanya.

Apabila karunia Allah yang ada pada kita diperbandingkan dengan karunia yang diberikan Allah kepada orang lain yang secara kuantitas dan kualitas lebih tinggi, maka kita akan merasakan bahwa karunia Allah pada diri kita selalu terasa sedikit jumlahnya. Hal inilah yang membuat kita lupa mensyukuri nikmat yang telah ada.

            Dalam hubungan itulah Rosulullah telah berpesan:
انظر إلى من هو اسفل منکم ولا تنظر إلی من هو فوقکم فهو ٱجدر ٱن لاتزدروا نعمة الله عليکم )رواه البخاري ومسلم )
           
Artinya:
 Pandanglah kepada orang yang lebih rendah daripada kamu, dan janganlah selalu memandang kepada orang yang di atas kamu, agar kamu tidak memandang kecil terhadap nikmat Allah atasmu. (Riwayat Bukhori dan Muslim).

       Dalam hal anugerah Allah yang diberikan kepada kita, hendaknya tidak kita perbandingkan dengan anugerah Allah yang ada pada orang lain yang mungkin lebih besar dan lebih banyak jumlahnya. Karena kalau anugerah Allah itu kita bandingkan dengan yang ada pada orang lain yang lebih besar, maka kita merasa belum mendapatkan apa-apa. Kita akan selalu merasa kekurangan, sehingga kita lupa mensykuri anugerah yang sudah ada pada diri kita. Demikian pula seandainya kita melakukan sesuatu kesalahan, janganlah diperbandingkan dengan kesalahan orang lain yang lebih besar, tapi bandingkanlah dengan kesalahan orang yang lebih kecil. Kalau kesalahan itu kita perbandingkan dengan yang lebih besar, maka kita merasa seolah-olah kesalahan kita itu tidak berarti apa-apa, sehingga kita tidak memiliki niat untuk memperbaiki diri .

                                    Mudah-mudahan Allah menggabungkan kita dengan orang-orang yang senantiasa mesyukuri nikmat-Nya.

اللهم ٱعني على ذكرك وشكرك وحسن عباد تك ٠
ربي اوزعني ٱن ٱشكر نعمتك التي ٱنعمت علي وعلى والدي وٱن ٱعمل صالحا ترضاه وٱدخلني برحمتك في عبادك الصالحين ٠
ٱمين يامجيب السائلين  يا غفور الرحيم ٭
   




Friday, November 25, 2011

IQRO

بسم الله الرحمن الرحيم
MEMBACA TANDA-TANDA KEBESARAN ALLAH

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ (١) خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ (٢) ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ (٣) ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ (٤) عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ (٥)

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ayat ini tercantum dalam surat Al ‘Alaq yang artinya segumpal darah. Malaikat Jibril menyampaikannya kepada Muhammad pada waktu beliau berusia 40 tahun. Dengan turunnya ayat ini maka resmilah Muhammad dipilih oleh Allah menjadi seorang Rosul yang bertugas untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada umat manusia.
Ketika Malak Jibril menyampaikan ayat ini, Rosulullah menjawab, “Saya tidak bisa memb aca”, “Bacalah”, Rosul menjawab lagi, “Saya tidak bisa memb aca”, demikian sampai tiga kali. Kemudian Jibri melanjutkan, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Mulia, yang telah mengajari manusia dnegan perantaraan pena, Dia memngajarkan kepada msnuaia, tentang apa-apa yang tidak diketahuinya.”
Nabi Muhammad pada saat itu, tidak bisa membaca. Kedatangan Jibril kepada Nabi Muhammad untuk menyuruh membaca, tentulah bukan sebuah kekeliruan atau sebuah ketidaktahuan, karena yang diperintahkannya bukan untuk membaca sebuah tulisan, melainkan membaca dalam pengertian yang selusas-luasnya tentang kekuasaan dan kebesaran Al Kholiq yang telah menciptakan manusia.
Allah telah mengajari manusia dengan perantaran pena, dan mengajari manusia tentang apa-apa yang tidak diketahuinya. Fenomena-fenomena alam merupakan “goresan pena Allah” yang harus dibaca, dipelajari, dieksplorasi untuk kemanfaatan seluruh alam. Allah hanya memberikan kemampuan meneliti dan mengeksplorasi alam ini kepada manusia, tidak kepada makhluk-makhluk yang lain.
Firman Allah dalama Surat Al Ahzab ayat 72:
إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَہَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ ظَلُومً۬ا جَهُولاً۬

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,



Manusia merupakan makhluk yang telah diberi berbagai potensi oleh Allah untuk mampu mengelola alam buat kesejahteraan manusia, tapi manusia itu terkadang zalim kepada dirinya dan bersifat bodoh. Kezaliman yang dilakukan manusia itu adalah dalam bentuk pengingkaran terhadap kekuasaan Allah. Berbagai fenomena yang terjadi pada alam, hanyalah dianggap sebagai sebuah “hukum alam” biasa. Mengapa api itu bersisfat panas, dianggapnya hanyalah sebuah hukum alam saja. Kezaliman manusia itu akan semakin dahsyat, tatkala alam itulah yang dipertuhankan olehnya. Bukankah kemusyrikan itu merupakan kezaliman yang besar, sebagaimana diterangkan dalam Surat Luqman ayat 13.
إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ۬
“ Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Penelitian dan pengkajian yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu, tidak memberikan pencerahan yang bisa melahirkan kesadaran terhadap keberadaan pencipta alam, bahkan menimbulkan rasa kesombongan dan ketakaburan. Di sinilah kebodohannya. Jadi bodohnya itu bukan dalam arti tidak berilmu, melainkan dengan ilmunya itu tidak bisa menerima kebenaran yang hakiki.
Bagi seorang yang beriman, hukum alam itu adalah sunatullah yakni ketentuan Allah, maka dari situlah titik awal seorang mu’min untuk meneliti, memperhatikan, mempelajari dan mengkaji alam semesta. Sehingga proses pengkajiannya itu akan mampu memperdalam keyakinan terhadap kebesaran Al Kholiq Pencipta alam semesta. Jika dia belum mampu melakukan penelitian secara ilmiah terhadap sesuatu fenomena alam, maka dia akan mengucapkan Wallahu a’lam, hanya Allah yang Mahatahu segala sesuatu. Tidak ada sedikit pun perasaan bahwa dirinya serba tahu dan lebih tahu dari pencipta alam semesta. Dengan demikian tidak ada rasa takabur, rasa menyomboingkan diri, karena hanya Allah Yang Maha Besar dan Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tugas memakmurkan bumi ini hanya diberikan Allah kepada manusia, tidak kepada malaikat, tidak pula kepada makhluk-makhluk lain seperti jin, hewan dan sebagainya, karena Allah Mahatahu bahwa yang memiliki potensi untuk itu hanya makhluk yang namanya manusia. Potensi yang diberikan Allah sebagai perangkat yang dimiliki manusia adalah al ‘aqlu (akal) yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Akan tetapi jika diserahkan hanya kepada akal saja, manusia kadang-kadang bisa salah mengambil keputusan. Sesuaatu yang benar menurut akal manusia, belum tentu merupakan kebenaran yang sesungguhnya. Oleh karena itu kebenaran yang dihasilkan akal manusia adalah kebenaran yang nishbi (relaatif), kebenaran yang bersifat kondisional, sedangkan kebenaran yang berasal dari Allah adalah kebenaran yang mutlak.

Sebagai sebuah ilustrasi, marilah kita lihat tatkala kita berdiri di jalan kereta api yang lurus, maka tampak di ujung sana kedua jalur rel itu seolah-olah berhimpit dan merapat, padahal tidak demikian. Atau kita perhatikan, jika sebatang tongkat yang lurus, kita celupkan ke kolam air yang bening, maka tampak oleh mata kita sepertinya tongkat itu bengkok. Kalau hal itu dibenarkan, maka manusia akan mengambil sebuah keputusan yang keliru. Jadi potensi yang ada pada manusia itu memiliki keterbatasan. Kalau begitu, manusia masih perlu diberikan perangkat lain yakni hidayah ( petunjuk) yang akan senantiasa menerangi perjalanan mansuia menuju kepada titik tujuan terakhir (final goal) yaitu keridhoan AllahS WT.

Petunjuk itu sekarang usdah ada lengkap di hadapan kita, tinggal kita mau menggunakannya atau tidak? Allah berfirman: dalam Al Baqoroh ayat 2:
ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ

“Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”

Al Qur’an itulah yang akan mengarahkan kita menuju keridhoan Allah melalui jalan yang lurus. Jalan lurus itu adalah jalan yang dilalui oleh para Rosul Allah, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan yang sesat. Islam itulah jalan yang lurus yaitu jalan yang paling dekat dan paling tepat untuk mengantarkan manusia kepada keridhoan Allah SWT.
Billahit taufiq wal hidayah










.

Wednesday, November 16, 2011

RISALAH AQIQAH

RISALAH AQIQAH
Pengertian Aqiqah
Kata aqiqah berasal dari bahasa Arab aqq yang berarti memotong atau memutus. Ada pula yang mengartikan bahwa aqiqah adalah sebutan terhadap hewan yang disembelih. Disb ut demikian karena memang hewan itu lehernya dipotong. Ada pula yang mengartikan aqiqah adalah rambur bayi yang dibawa sejak lahir. Karena ambut itu dipotong pula demi kebersihan dan kesehatan sang bayi.
Makna aqiqah menurut syari’at Islam adalah menyembelih hewan kambing pada hari ketujuh kelahiran bayi sebagai ungkapan rasa syukur atas kaarunia Allah SWT berupa kelahiran seorang anak.
Hukum Aqiqah
Hukum aqiqah adalah sunah mu’akadah, artinya sunah yang sangat dianjurkan. Hal inilah yang m,ernjadi paham mayorits ulama.
Sebuah Hadis Rosulullah saw menyatakan. (KULLU GHULAMUN MUMTAHANUN BI ‘AQIQOTIHI”“ Setiap anak tertuntut dengan aqiqahnya.”
Hadis lain riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad, mengemukakan bahwa Rosulullah bersabda,” Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka sembelihlah penebus darinya dan bersihkanlah dari kotoran.” (HR Bukhori dan Ahmad).
Perkataan Nabi saw dnegan kata “sembelihlah” merupakan perintah yang menunjukkan hukum wajib. Namun ada keterangan lain yang memalingkannya dari hukum waji menjadi sunat yaitu keterangan dari Rosulullah yang menyatakan, “Brang siapa di antara kalian ada yang ingin menyembelh atas kelahiran anaknya, maka selakan lakukan.” (HR Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i)

Ada hadis Rosuluullah yang mengemukakan bahwa anak laki-laki aqiqahnya dua ekor kambang sedangkan anak perempuan satu ekor kambing. Hal ini akan berkaitan erat dengan tanggung jawab sosial seorang laki-laki dan seorang perempuan kelak setelah dewasa.
Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor domba dan dari anak perempuan satu ekor.” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa aqiqah bagi anak laki-laki sama dengan aqiqah bagi anak perempuan yaitu satu ekor kambing. Hal ini didasarkan kepada riwayat bahwa Rosulullah SAW melakukan aqiqah bagi Hasan dengan satu ekor kambing dan Husein dengan satu ekor kambing juga.

Waktu Pelaksanaannya
Pelaksanaan aqiqah disunahkan pada hari ketujuh dari kelahiran. Hal ini berdasarkan hadis Rosulullah saw. “ Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ketujuh, dan dia dicukur dan diberi nama.” (HR Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi).

Apabila tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh,maka bisa pada hari keempat belas, jika masih belum bisa juga, maka pada hari kedua puluh satu (Berdasarkan hadis riwayat Al Baihaqi). Namun jika hari keduapuluh satu masih belum bisa juga, maka bisa dilakukan kapan saja di kala mampu. Bahkan apabila sampai dewasa belum juga disembelihkan aqiqah oleh orang tuanya, ia boleh menyembelih aqiqah dari hasil usahanya sendiri.

Pembagian daging aqiqah

Orang tua bayi boleh menyedekahkan sebagian atau seluruhnya dan boleh pula memakannya maksimal sepertiganya, atau memasaknya dan mengudang para tetangga, sahabat, fakir-miskin dan lain-lain untuk bersama-sama menikmatinya.
Hewan yang disembelih untuk aqiqah persyaratannya sama dengan hewan untuk qurban. DI antara syarat-syarat itu ialah tidak boleh hewan yang terlalu kurus, pincang, atau anggota badannya cacat. Para ulama membolehkan mengganti kambing dengan sapi atau unta, tapi sapi atau unta itu hanya untuk satu orang anak, tidak seperti qurban, di mana seekor sapi atau unta bisa patungan untuk tujuh orang. Tetapi sebagian ulama berpendapat bahwa aqiqah hanya dengan kambing saja, sesuai dengan dalil-dalil yang datang dari Rosulullah SAW.
Ada perbedaan dalam pembagian daging qurban dengan aqiqah yaitu kalau daging qurban dibagikan dalam baentuk mentah sedangkan daging aqiqah boleh dibagikan setelah dimasak terleblih dahulu.

Hikmah Aqiqah

Syaih Abdullah Nasih ZUlwan peangarang kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam mengemukakan hikmah aqiqah sebagai berikut:

1. Mengikuti dan menghidupkan sunah Rosulullah
2. Melindungi anak yang terlahir itu dari segala gangguan, sehingga anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya Insya Allah taerlindungi dari gangguan syaitan.
3. Aqiqah merup[akan tebusan hutang si anak untuk dapat memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya kelak di yaumul hisab.
4. Sebagai bentuk taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan rasa syukur atas kaarunia-Nya berupa kelahiran sang anak.
5. Mewujudkan kegembiraan dalam melaksanakan syari’at Islam dan bertambahnya keturunan.
6. Aqiqah mempererat rasa persaudaraan santar sesame muslim.

Walaahu A’lam