Tuesday, December 31, 2013

PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG HUKUM MEMPERINGATI HARI RABU WEKASAN


Di antara anggapan dan keyakinan keliru yang terjadi di bulan Shafar adalah adanya sebuah hari yang diistilahkan dengan Rebo Wekasan. Dalam bahasa Jawa ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar (diperkirakan pada bulan Shafar tahun ini (1431 H) bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2010). Di sebagian daerah, hari ini juga dikenal dengan hari Rabu Pungkasan.
Apakah Rebo Wekasan itu?
Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa setiap tahun akan turun 320.000 bala’, musibah, ataupun bencana (dalam referensi lain 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya), dan itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Sehingga dalam upaya tolak bala’ darinya, diadakanlah ritual-ritual tertentu pada hari itu. Di antara ritual tersebut adalah dengan mengerjakan shalat empat raka’at -yang diistilahkan dengan shalat sunnah lidaf’il bala’ (shalat sunnah untuk menolak bala’)- yang dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah shalat isyraq (setelah terbit matahari) dengan satu kali salam. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali (dalam referensi lain 5 kali), Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan surat An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca sebanyak 360 kali ayat ke-21 dari surat Yusuf yang berbunyi:
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”
Kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamal tiga kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Ritual ini kemudian dilanjutkan dengan memberikan sedekah roti kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, dia juga harus membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.
Barangsiapa yang pada hari itu melakukan ritual tersebut, maka dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu.
Kaum muslimin rahimakumullah, dari mana dan siapakah yang mengajarkan tata cara / ritual ‘ibadah’ seperti itu?
Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa di dalam kitab Kanzun Najah karangan Syaikh Abdul Hamid Kudus yang katanya pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah, diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah[1] bahwa pada setiap tahun akan turun 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya, yang turunnya pada setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar. Bagi yang shalat pada hari itu dengan tata cara sebagaimana tersebut di atas, maka akan selamat dari semua bencana dan bahaya tersebut.
Mungkin inilah yang dijadikan dasar hukum tentang ‘disyari’atkannya’ ritual di hari Rebo Wekasan tersebut. Namun ternyata amaliyah yang demikian tidak ada dasarnya sama sekali dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi salaf dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in tidak pernah melakukan apalagi mengajarkan ritual semacam itu. Demikian pula generasi setelahnya yang senantiasa mengikuti jejak mereka dengan baik.
Keyakinan tentang Rebo Wekasan sebagai hari turunnya bala’ dan musibah adalah keyakinan yang batil. Lebih batil lagi karena berangkat dari keyakinan tersebut, dilaksanakanlah ritual tertentu untuk menolak bala’ dengan tata cara yang disebutkan di atas. Sementara keyakinan dan ritual tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan tidak pula dicontohkan oleh para imam madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal), tidak pula mereka membimbing dan mengajak para murid serta pengikut madzhabnya untuk melakukan yang demikian.
Para ulama dan kaum muslimin yang senantiasa menjaga aqidah dan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya hingga hari ini -sampai akhir zaman nanti- juga tidak akan berkeyakinan dengan keyakinan seperti ini dan tidak pula beramal dengan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf tersebut.
Jika keyakinan dan ritual ibadah tersebut tidak berdasar pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula sebagai amalan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan para imam madzhab yang empat, maka sungguh amalan tersebut bukan bagian dari agama yang murni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk bimbingan dan petunjuk kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim).
Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjaga kita dan kaum muslimin dari berbagai penyimpangan dalam menjalankan agama ini. Amin.
Ditulis oleh Abu ‘Abdillah Kediri.
[1] Istilah ulama ‘arifin (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang mengetahui) dan ahli mukasyafah (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang bisa menyingkap) inipun juga tidak dikenal di kalangan salaf. Istilah ini dikenal di kalangan penganut paham shufiyyah sebagai penamaan bagi orang-orang ‘khusus’ yang mengerti sesuatu tanpa melalui proses belajar, dalam bahasa jawa disebut ngerti sakdurunge winarah. Mereka -yakni ulama ‘arifin dan ahli mukasyafah itu- juga diyakini bisa bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bahkan bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala di dunia maya, sehingga mereka bisa menyingkap sesuatu (dari perkara ghaib) yang tidak bisa diketahui oleh selain mereka.
Ini semua tentunya adalah keyakinan yang batil, dan pembahasan seperti ini sangatlah panjang. Yang penting bagi kita adalah berupaya menjalankan agama ini -beraqidah, beribadah, berakhlak, bermu’amalah, dan lainnya dari urusan diniyyah- benar-benar bersumber dan sesuai dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih, bukan pemahaman selain mereka. Wallahu a’lam. (tERSERAh anda)

Wednesday, February 20, 2013

SUMBER HUKUM ISLAM

Sumber hukum sekaligus sebagai sumber nilai dalam Islam yang harus dijadikanlandasan dalam mengambil berbagai keputusan, terlukis dalam kisah berikut ini.
Tatkala Rosulullah s.a.w. mengurus Mu'adz bi Jabal untuk menjadi seorang gubernur di Yaman, maka untuk emnguji kompetensi sang calon gubernurnya, Rosul memberikanpertanyaan kepada Mu'dz, "Dengan pedoman apa, engkau memutuskan suatu perkara?"
Jawab Mu'adz, "Dengan Kitabullah
Tanya Rosul, "Kalau tidak engkau temukan dalam Kitabullah (Al Qur'an)"
Jawab Mu'adz, Dengan Sunnah Rosulullah,"
Tanya Rosu, "Kalau dalam Sunah juga tidak engkau temukan."
Jawab Mu'adz, "Saya berijtihad dengan pikiran saya."
"Mahasuci Allah yang telah memberikan bimbingan kepada utusan Rosul-Nya, dengan satu sikap yang disetujui Rosul-Nya," sabda Rosulullah (Hadits Riwayat Abu Dawud dan Turmudzi).

Dari kejadian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sumber nilai dan sumber hukum dalam Islam adalah:
1) Kitabullah yaitu Al Qur'an
2) Sunnah Rosulullah atau hadits
3) Ijtihad yaitu berusaha keras dan sungguh-sungguh untuk menetapkan suatu keputusan yang tidak tercantum secara jelas dalam Al Qur'an atau pun Haditss.
 Urutan ini menunjukkan kepada tingkatan yang tidak boleh ditukar-tukar. Misalnya kalau hasil ijtihad seorang ulama itu ternyata bertentngan dengan hadis yang sohih maka hadis sohih itu yang diambil. Kalau sebuah hadis bertentagan dengan ayat Al Qur'an maka ayat Al Qur'an yang harus diambil

Kita bisa membadingkan dengan tata hukum di negeri kita. Kalau sebuah keputusan presiden bertebtabgab dengan undang-undang, maka keputusan presiden kita tinggalkan dan kita ambil undang-undang. Kalau undang-undang bertentangan dengan konstitusi, maka konstitusi yang kita pegang. Jika konstitusi bertentangan dengan Pancasila maka konnsstitusi kita tinggalkan dan Pancasila kita ambil. Kira-kira begitulah.
Wallahu a'lam.

ISLAM ANTI KEKERASAN

Islam sebagaimana agama lainnya adalah anti kekerasan. Sebuah stigma yang diberikan seperti Islam galak, Islam garis keras dan lain-lain, seharusnya  konotasinya bukan kepada Islamnya melainkan kepada penganutnya. Bukan hanya penganut Islam yang bisa berlaku keras. Kita melihat pula kekerasan pada penganut agama lain. Lihat di Rohingya, di Bosnia,  malah ummat Islam menjadi korban kekerasan.

Al Qur'an sudah memberikan pernyataan yang jelas, "Tidak ada paksaan dalam agama." (Al Baqoroh 256).
Manusia tida perlu dipaksa-paksa untuk menjadi seorang muslim, sebab mau kafir atau mau muslim, Alah tidak akan rugi. Alah akan tetap menjadi Tuhan sememsta alam (Robbul 'aalamiin)

Firman Allah:

walaw syaa-a rabbuka laaamana man fii al-ardhi kulluhum jamii'an afa-anta tukrihu alnnaasa hattaa yakuunuu mu/miniina 
99. Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?
 Kalau pun orang Islam mau mengajak orang lain untuk menjadi seorang muslim, ALlah sudah memberikan pedoman yang jelas, dalam surat An Nahl ayat 125:

ud'u ilaa sabiili rabbika bialhikmati waalmaw'izhati alhasanati wajaadilhum biallatii hiya ahsanu inna rabbaka huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilihi wahuwa a'lamu bialmuhtadiina 
125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah [845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

[845] Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Manusia yang dida'wahi itu disentuh hatinya, bukan disentuh fisiknya, sebab hati nurani manusia itu akan senantiassa tertarik kepada kebaikan, kepada hal-hal yang ma'ruf. Tunjukkan dan buktikan bahwa Islam itu adalah suatu kebaikan.

Kekerasan itu terjadi bukan karena ajaran agamanya yang melegalkan kekerasan, melainkan manusia penganutnya yang bertidandak keras manakala kepentingan-kepentingannya terganggu oleh pihak lain. Kepentinganitu bisa berupa kepentingan politik, kepentingan ekonomi dan lain sebagainya. Siapa pun, penganut agama apa pun, kalau hal itu terusik, maka dia akan berontak membela hak dan keyakinannya.

Wallau a'lam
 



Monday, February 18, 2013

HATI ITU BAGAIKAN CERMIN

Imam Algozali mengumpamakan hati itu bagaikan cermin.
 Kalau cermin bersih dan bening maka akan mudah menerima cahaya dan memantulkannya kembali ke sekitarnya. Tapi kalau ia kotor maka akan gelap dan tidak bisa menerima cahaya dari luar. Kira-kira demikian pula hati kita. Di kala hati kita bersih, kita akan  mudah menerima hidayah dan nasihat yang akan membawa kepada keselamatan  dan ketenangan baatin. Sebaliknya kalau hati kita kotor maka kita akan sulit menerima segala bentuk kebenaran. Karena itu Allah berfirman dalam surat As Syams:


[91:9] sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

[91:10] dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Yang membuat jiwa kita kotor adalah penyakit hati seperti iri, dengki, hasud, rakus, takabur, dan sebagainya. 
 Rosulullah s.a.w bersabda, "Jauhilah olehmu sifat dengki, karena kedengkian itu bisa melumatkan kebaikan sebagaimana api melumatkan kayu bakar".
Segala penyakit hati itu bisa sirna dengan senantiasa "dzikrullah" yakni  mengingat SWT. Dzikrullah dalam arti sempit adalah mengucapkan LAA ILAAHA ILALLAH sedangkan dzikir dalam arti yang luas adalah senantiasa menjaga diri dari segala perbuatan makshiat karena meyakini bahwa segala amal perbuatan itu selalu diawasi oleh Allah SWT.

Firman ALlah dalam  Surat Ar Ro'du ayat 28:


alladziina aamanuu watathma-innu quluubuhum bidzikri allaahi alaa bidzikri allaahi tathma-innu alquluubu 
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.










Sikap selalu mengingat Allah berarti akan senantiasa menjaga diri dari segala dosa dankemaksiyatan. Itulah sebabnya hati akan menjadi tentram. Lain halnya dengan orang yang berbuat dosa dan kemaksiyatan, maka hatinya tidak akan berada dalam ketenangan. Selalu merasa dikejar-kejar oleh dosanya sendiri.

baarokallaahu lii walakum




Wednesday, February 13, 2013

NABI ISA A.S MENURUT AL QUR'AN

AL Qur'an memberikan koreksi atas kekeliruan pandangan kaum Yahudi dan Nasrani terhadap Isa a.s. Kaum Yahudi tidak mengagumi atas kelahiran Isa a.s.bahkan menuduh bahwa Isa adalah anak Maaryam hasil dari perzinaan.  Lain halnya dengan kaum Nasrani yang yang sangat mengagungkan Isa sehngga dianggap sebagai Kristus, anak Allah yang diturunkan ke dunia sebagai juru selamat.
Kelahiran Isa a.s tanpa ayah, menurut AL Qur,an merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah. Tidak ada perkara mustahil menurut ALlah. Sebagaimana Nabi Adam yang diciptakan Allah tanpa ayah dan tanpa ibu. Dengan demikianl Al Qur'an tidak merendahkan Isa sebagai anak haram sebagaimana anggapan kaum Yahudi  dan tidak pula menjunjungnya menjadi Kristus. 

Islam menempatkan Isa a.s sebagai Rosul dan Nabi yang diutus oleh Allah sebagaimana dikatkakan dalam AL Qur'an Surat Maryam ayat 30:


[19:30] Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

Sunday, February 10, 2013

HARGA SEBUAH DEMOKRASI



                    


                         DEMOKRASI DAN PEMBIASAN

                                 IDEALISME RAKYAT

            

Demokrasi secara  etimologis berasal dari bahasa Yunani demos artinya rakyat dan cratos  artinya kekuasaan. Jadi demokrasi  merupakan sistem pemerintahan negara yang meletakkan kedaulatannya di tangan rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau pun melalui perwakilan (demokrasi perwakilan). Istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles di Athena sekitar abad ke 5 SM, sebagai suatu bentuk pemerintahan yang menetapkan  bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat). Dalam pemahaman yang lebih populer dikenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

PENYAKIT KITA DAN OBAT PENYEMBUHNYA

Yang saya maksud dengan penyakit kita pada judul itu adalah penyakit kita selaku orang Islam. Kita sedang mengidap suatu penyakit yaitu penyakit perpecahan. Umat Islam tidak lagi menjadi saatu umat yang utuh teguh seperti masa Rosulullah. Kita senang bercerai berai sehingga hilang semua kekuatan kita. Kita tidak lagi ditakuti oleh musuh-mush kita bahkan menjadi sebuah permainan musuh kita. Bagaikan macan yang dimainkan oleh pawangnya.

Penyakit kita yang demikian ini sudah disinyalir oleh Rosulullah tatkala beliau masih hidup di tengah-tengah ummatnya. Sabda beliau:


“Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”. 
(HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan juga mirip dengannya dari hadits Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu)


Perpecahan kita terjadi karena kita sudah jauh meninggalkan keteladanan Rosulullah, tidak terasa kita menjauhi sunah beliau sejengkal demi sejengkal akhirnya semakin jauh. Apa-apa yang sudah sempurna dalam sunah beliau tapi kita masih ingin menambah-nambahnya lagi karena merasa ingin lebih sempurna lagi. Lalu kita kerjakan apa yang tidak pernah dikerjakan oleh beliau dan kita lakukan apa-apa yang tidak pernah disuruh dan tidak dianjurkannya. Akhirnya timbullah ishraf  atau sikap berlebihan dalam ibadah yang seolah-olah kita beranggapan bahwa apa-apa yang telah dicontohkan oleh Rosulullah itu masih kurang sempurna. Akibatnya setiap orang berbuat menurut persepsinya masing-masing sehingga tatkala ditunjukkan perbuatan yang sesuai dengan sunnah Rosulullah, dianggaplah bahwa hal itu sebagai sesuatu yang baru. 

Tuesday, January 29, 2013

ROSUL MENURUT AL QUR'AN

Al Qur'an memberikan penjelasan bahwa rosul adalah manusia pilihan Allah yang diberi wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia. Pilihan ini dijatuhkan berdasarkan kualitas kepribadian yang dimiliki seorang rosul yaitu memiliki sifat shidiq (jujur), amanah (terpercaya) tabligh (menyampaikan) dan fathonah (cerdas). Manusia yang memiliki standar kualitas demikianlah yang akan mampu menerima pesan-pesan Allah berupa wahyu. Akan tetapi sebagai manusia biasa, seorang rosul tetap memiliki sifat-sifat dasar manusia seperti makan, tidur, jalan-jalan dan sebagainya yang tidak menyebabkan terdegradasinya sifat-sifat kemuliaan yang dimilikinya. Inilah yang dalam terminologi Islaaim disebut sifat "A'rodhul basyariyah" artiya sifat-sifat sebagai menusia.
Inti ajaran yang dibawa oleh para rosul itu adalah sama, yaitu mengajarkan manusia untuk menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Allah (La Ilaaha ilallaah). Sebagai manusia pilihan Allah, rosul itu tetap saja manusia, tidak naik derajatnya kepada derajat ketuhanan, atau menjadi  anak Tuhan. (Katakanlah, Allah itu Esa, Allah tempat semua makhluk menggantungkan pengharapan, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya). 
Terputusnya informasi kerasulan antara masa rosul satu dengan lainnya menimbulkan penafsiran seolah-olah agama yang dibawa para rosul itu bermacam-macam. Padahal para rosul itu mebawakan Islam yaitu agama tetang kepatuhan hanya kepada Allah. "Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah adalah Islam." (Ali Imran 19). 
Namun banyak manusia mengira bahwa Allah itu menciptakan tiga jenis agama yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Mereka mengelompokkan para rosul bahwa Ibrahim, Ishaq, dan Ya'kub sebagai pembawa agama Yahudi sedangkan kalangan Nasrani beranggapan bahwa seluruh rosul itu adalah membawa ajaran Nasrani kecuali nabi Isa yang diimaninya sebagai anak tuhan, ada pun nabi Muhammad tidak diakuinya sebagai rosul.
Al Qur'an tidak membedakan satu Rosul dari rosul lainnya, mereka adalah sama-sama sebagai pengemban tugas kerasulan.
[2:285] Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta'at." (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (AL Baqoroh 285)

 


Monday, January 28, 2013

SUNAN GUNUNG JATI DAN FATAHILLAH

  Siapakah Sunan Gunung Jati dan siapakah  Fatahillah?

Dalam pelajaran sejarah, kita masih menemukan bahwa Sunan Gunung Jati, Syarif Hidayatullah, Fatahillah, Faletehan adalah nama  atau sebutan untuk satu orang yang sama. Jadi Sunan Gunung Jati alias Fatahillah alias Syarif Hidayatullah, alias Faletehan alias Tagaril. Kesimpulan ini bersumber dari disertasi DR. Husein Djajadiningrat tahun 1913 yang menyatakan bahwa nama-nama itu merupakan sebutan untuk satu orang. Pendapat ini masih banyak memengaruhi para penulis sejarah.

Menurut Edi S.Ekadjati dalam Seminar Sejarah Jawa Barat di Sumedang tanggal 21-23 Maret 1974 yang mengambil sumber dari Carita Purwaka Caruban Nagari, menyatakan bahwa nama tersebut  merupakan nama dua tokoh yang berlainan. Makam kedua tokoh itu sama-sama ditempatkan secara berdekatan di Pasir Jati Bukit Sembung Cirebon. Sunan GUnung Jati wafat tahun 1568 sedangkan Fatahillah wafat tahun 1570.

Sunday, November 25, 2012

PENYERAHAN PENGANTIN PRIA


Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Ilahi Robbi, yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita semua sehingga pada saat ini kita dapat berkumpul bersilaturrahim. Sholawat dan salam sejahtera semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w. kepada keluarganya, para sahabatnya dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang kami hormati,
Atas nama keluarga Bapak Susilo Widodo dan Ibu Isah Sukamti dari Magelang,  terlebih dahulu kami menyampaikan ucapan terima kasih  yang sebesar-besarnya kepada hadirin semua khususnya kepada keluarga Bapak Priatman Maman dan Ibu Rosita yang telah menyambut kedatangan rombongan kami dengan penuh keakraban dan kehangatan. Untuk itu kami sampaikan pula salam ta’dzin dan penghormatan sebagai pengikat silaturrahim, semoga segala kebaikan Bapak Priatman Maman sekeluarga mendapat balasan kebaikan yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Hadirin yang kami hormati,
Kami datang dari jauh yaitu dari kota Magelang, dengan mengukir bukit menerjang jurang untuk sampai ke kota Sukabumi. Tiada lain maksud kami ingin  melanjutkan tentang kisah cinta dua sejoli anak-anak kita dan kesepakatan antara keluarga Bapak Susilo Widodo dengan keluarga Bapak Priatman Maman yaitu bahwa kami memiliki seekor kumbang yang pernah terbang mengedari taman indah di Sukabumi. Sang kumbang terpikat oleh keindahan sekuntum bunga mekar di Sukabumi yang kemudian sang kumbang pun hinggap untuk memadu janji.
Pada saat ini kumbang kami telah menjelma menjadi calon pengantin pria yaitu Sdr. Feri Pri Widodo yang bercita-cita ingin membentuk keluarga sakinah, mawadah, warohmah dengan  bunga indah mewangi pilihannya sendiri  dari taman Sukabumi yaitu puteri Bapak Priatman Maman yang bernama  Kiki Fatimah. Oleh karaena itu kami mohon kerelaan Bapak Priatman untuk  menikahkannya sesuai dengan tuntunan Allah dan sunah Rosul-Nya.
Selanjutnya kami menyerahkan calon pengantin pria yang bernama Feri Pri Widodo putera Bapak Susilo Widodo dan Ibu Isah Sukamti, untuk menjadi anggota baru dari keluarga besar Bapak Priatman melalui ikatan pernikahan. Kami menyadari bahwa anak kami ini masih banyak kekurangan dan kebodohannya terutama dalam urusan berumah tangga. Oleh karena itu tolong ingatkan ketika dia lupa dan tolong luruskan di kala dia keliru.
Bapak, Ibu yang kami hormati,
Sebagai tanda kasih sayang dari keluarga pengantin pria kepada calon pengantin wanita dan sebagai pengikat rasa kasih sayang antar keluarga,  bersama ini kami serahkan pula barang-barang untu sekedar cendera mata yang mungkin kurang berharga. Kami berharap agar barang ini tidak dilihat dari nilai harganya namun dipandang sebagai peangikat silaturrahim antar keluarga,  dalam membina ukhuwah yang penuh marhamah.  
Akhirnya kami mohon do’a restu dari hadirin semua, semoga kedua mempelai yang pada saat ini akan melakukan ikrar janji setianya, dapat mengayuh biduk keluarga ke arah pulau harapan yaitu keluarga sakinah, mawadah wa rohmah.
Billahit taufiq wal hidayah
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Thursday, August 9, 2012

PUISI IDUL FITRI 1433 H

Langit lebaran telah dibentangkan
bumi lebaran telah dihamparkan
kudoakan hatimu seluas langit dan bumi
cukup untuk menampung dan mengampuni
semua tindakanku padamu yang menyakiti


Idul fitri telah menghampiri
para pecinta Tuhan sejati
yang sebulan memberi bukti
dengan amalan tanda berbakti
pada Ilahi yang Mahasuci


Mohon dirimu sudi melengkapi
dengan mengampuni segala salah
yang kuperbuat selama ini

Seiring terbitnya matahari pagi
mohon dirimu sudi mengampuni
dosa-dosaku yang telah mengotori
hubungan kita selama ini


Di hari lebaran
mengemis kemurahan Tuhan
agar kita dikaruniai cinta sejati
bukan cinta basa-basi
hanya di mulut dan dalam hati
tanpa bukti berbakti pada Ilahi


Perjalanan panjang
di Bulan Ramadhan
tempat cinta dibuktikan
dengan amal perbuatan
Semoga membuat kita
berhak menjadi kekasih Tuhan


Lebaran kita berjabat tangan
untuk saling memaafkan
segala salah dan kekhilafan
Semoga segala amal perbuatan
selama bulan Ramadhan
dicatat sebagai pemberat timbangan
amal kebaikan untuk hari kemudian.


Idul fitri kita saling memaafkan
segala kesalahan mohon dihapuskan
Kita jalani hari baru tempuh masa depan
dengan hati murni setelah puasa sebulan.


Bolehlah kita mengaku pecinta Tuhan
asal terbukti dalam amal perbuatan
bukan sekedar di lisan dan alam pikiran
Selamat hari lebaran
segala kesalahan mohon dimaafkan
kita mulai hari baru raih masa depan.

Cinta pada Tuhan telah kita buktikan
dengan amalan selama Ramadhan.
Karena cinta hanya di lisan
atau cinta hanya di hati dan perasaan
tanpa didukung amal perbuatan
yang sesuai perintah Al Quran
tak lebih dari cinta dalam angan-angan

Puasa sebulan tempat menyadarkan manusia
bahwa cinta dan merasa dekat dengan-Nya
hanyalah fatamorgana yang membuat terlena
bila tidak terbukti dalam amal nyata
sesuai perintah dalam kitab suci-Nya

Lebaran adalah hari kemenangan
Ramadhan ajang membuktikan
cinta kita pada Tuhan sekedar khayalan
atau cinta sebenar-benar orang beriman
dari amal-amalan selama sebulan.

Lebaran telah tiba
setelah sebulan kita membuktikan
cinta pada Tuhan dengan amalan
berupa sedekah dan shalat malam,
bukan sekedar mengingat nama Tuhan.

Kalau cinta hanya di lisan
Kalau cinta hanya kata-kata menawan
tanpa didukung amal-perbuatan
apalagi berani menentang kebenaran Al Quran
Pantaskah berlebaran
merayakan hari kemenangan

Kita tahu cinta bukan hanya di hati
Karena Tuhan menuntut bukti
dengan waktu malam dan harta pribadi
tidak sayang kita persembahkan buat Ilahi
Semoga di hari fitri ini amal kita menjadi saksi
bahwa cinta kita bukan sekedar wacana dalam hati

Kalau cinta hanya dengan menyebut nama Ilahi
dan mengingat keberadaan-Nya dalam hati
tapi tak peduli firman-firman dalam ayat suci
tapi tak pernah mengikuti sunnah nabi
maka cinta seperti itu bukanlah cinta sejati
yang layak dipersembahkan pada Sang Mahatinggi.
Semoga lebaran hadirkan kesadaran
bahwa cinta kita perlu dibuktikan
dengan amal perbuatan sesuai Al Quran.

Para pengajar kesesatan
ajak tinggalkan Al Quran dan kebenaran
hanya demi dogma-dogma kebebasan
Selamat hari lebaran
segala salah mohon dimaafkan
semoga puasa sebulan
membawa kita mencintai kebenaran

Agama kebebasan meninggalkan ajaran Tuhan
membuat para pengikutnya kebingungan
karena kehilangan Al Quran pegangan kebenaran
Selamat hari lebaran
Segala salah mohon dimaafkan

Ketika orang sesat sedang kebingungan
habiskan waktu untuk melakukan pencarian
dan berunding untuk menentukan kebenaran
Orang yang berpegang teguh pada Al Quran
sibuk beramal dan memajukan ilmu pengetahuan
karena kebenaran telah ditunjukkan Tuhan.
Selamat hari Lebaran
Segala Salah mohon dimaafkan
Semoga kita terhindar dari kesesatan.

Orang beriman tak perlu lakukan pencarian
Karena jalan kebenaran telah ditunjukkan Tuhan
pada orang-orang beriman lewat Al Quran
Manusia tinggal mengikuti pedoman jalan
agar meraih sebenar-benar kebahagiaan.
Semoga di hari lebaran
kita makin teguh menempuh jalan kebenaran


Thursday, August 2, 2012

PUASA, LATIHAN MENEBAR CINTA

Setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah, pasti mengandung hikmah bagi manusia sebagai pelakunya. Demikian pula ibadah puasa kita di bulan Romadhon. Hikmah yang bisa kita peroleh secara pribadi, akan membawa dampak positif bagi kehidupan sosial.  Antar lain rasa empati terhadap penderitaan sesama, setelah melatih diri untuk akrab dengan rasa lapar yang biasanya rasa lapar itu hanya milik kaum fakir dan kaum miskin. 
Rasa lapar yang dirasakan oleh orang berkecukupan pada waktu dia berpuasa dengan rasa lapar orang miskin yang kekurangan pangan, adalah sama. Yang membedakannya hanyalah harapan dan kepastian. Orang kaya yang merasa lapar di kala berpuasa dia punya harapan dan kepastian bahwa pada waktunya dia bisa makan secukupnya yaitu ketika berbuka. Namun rasa lapar orang-orang miskin yang berkekurangan belum tentu dia bisa makan di waktu magrib bahkan mungkin rasa lapar itu akan berlanjut berhari-hari.
Oleh karena itu syari'at Islam mengajarkan bahwa orang yang berpuasa diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai bukti adanya rasa empati terhadap penderitaan sesama. Ajaran ini diharapkan mampu membangkitkan rasa marhamah dan kebersamaan antara kaum aghniya dengan kaum dhu'afa. 

Rosulullah bersabda, "Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu yang senantiasa merasa kenyang sedangkan tetangga sebelahnya kelaparan."

 Sabda Rosulullah pula, "Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai sesamanya sebagaimana ia mencitai dirinya sendiri"

Kalau kedua hadis Rosul itu dihayati dan diamalkan dengan sebaik-baiknya maka bulan Romadhon akan benar-benar menjadi bulan yang menebarkan rasa cinta yang penuh rahmah, penuh maghfiroh dan bulan pembebasan dari api neraka yaitu pembebasan dari segala bentuk melapetaka dan bencana kemanusiaan yang ditimbulkan oleh ketimpangan sosial.


Baarokallahu lii walakum

Thursday, July 26, 2012

PUASA HARUS DILAKSANAKAN ATAS DASAR IMAN

Puasa dalam terminologi syari'at Islam dikenal dengan nama shaum yang secara etimologis berarti menahan. Menurut syari'at Islam shaum adalah menahan diri dari segala yang membatalkan mulai dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Sedangkan hal-hal yang membatalkan shaum itu adalah makan, minum dan berhubungan suami istri.


Ibadah shaum (puasa) merupakan bentuk ibadah yang dikenal oleh setiap agama. Puasa dikenal dalam Hindu, Budha, Katolik bahkan beberapa aliran kepercayaan seperti Shinto dan Konghutsu . Jadi puasa merupakan ibadah yang paling membumi sebab sejak zaman dahulu kala Allah memang sudah menetapkan ibadah puasa ini kepada para Rosul di masa lamapu sebelum Nabi Muhammad s.a.w.  Seperti kita baca dalam Firman Allah:


surah / surat : Al-Baqarah Ayat : 183
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu kutiba 'alaykumu alshshiyaamu kamaa kutiba 'alaa alladziina min qablikum la'allakum tattaquuna

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
Kalimat yang berbunyi "sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu" menunjukkan bahwa puasa sudah ditetapkan jauh sebelum ummat Nabi Muhammad. Oleh karena itu agama-agama tua di dunia ini cukup kenal dengan ibadah puasa.


Perbedaannya, puasa atau shaum dalam Islam diatur secara normatif oleh syari'at sehingga kalau dilakukan tidak sesuai aturan syari'at maka bukanlah puasa yang benar. Sedangkan agama-agama non Islam tidak mengatur puasa secara teknis, melainkan diserahkan kepada kehendak pelakunya sendiri baik mengenai waktu pelaksanaannya mapun cara melakukannya.


Puasa Romadhon merupakan puasa wajib bagi seorang muslim. Bagi non muslim boleh berpuasa kapan saja dia mau dan tidak merupakan suatu kewajiban. Mau puasa setengah hari, sehari semalam, tujuh hari tujuh malam, boleh-boleh saja. Bahkan ada puasa makan makanan yang dimasak api, puasa makan daging dan lain sebagainya. 


Bagaimana kalau non muslim itu berpuasa secara Islam? Tentu oleh saja. Tapi puasa mereka tidak mendapat nilai dari Allah karena tidak melekat pada landasan iman. Karena setiap bentuk ibadah dalam Islam harus selalu dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT.



















Friday, July 13, 2012

FATWA TENTANG HUKUM MEROKOK

FATWA MAJLIS TARJIH DAN TAJDID MUHAMMADIYAH TENTANG HUKUM MEROKOK

1. Wajib hukumnya mengupayakan pemeliharaan dan peningkatan   derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya suatu kondisi hidup sehat yang merupakan hak setiap orang dan merupakan bagian dari tujuan syari'ah. 

2.  Merokok hukumnya adalah haram karena:                

a. merokok termasuk kategore perbuatan melakukan khoba'its yang dilarang dalam Al Qur'an, 7:157,

b. perbuatan memrokok mengandung unsur menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dan bahkan merupakan perbuatan bunuh diri secara perlahan sehingga oleh karena itu bertentangan dengan larangan Al Qur'an  2:195 dan 4:29.

c. perbuatan merokok membahayakan diri dan orang lain yang terkena paparan asap rokok sebab rokok adalah zat adiktif dan berbahaya sebagaimana telah disepakati oleh para ahli medis dan para akademisi dan oleh karena itu merokok bertentangan dengan prinsip syari'ah dalam hadis Nabi s.a.w. bahwa tidak ada perbuatan membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain.

d. rokok diakui sebagai zat adiktif dan mengandung unsur racun yang membahayakan walaaupun tidak seketika melainkan dalam beberapa waktu kemudian sehingga oleh karena itu perbuatan merokok termasuk kategori melakukan suatu yang melemahkan sehingga bertentangan dengan hadis Nabi s.a.w. yang melarang setiap perkara yang memabukkan dan melemahkan.

e. Oleh karena merokok jelas membahayakan kesehatan bagi perokok dan orang sekitar yang terkena paparan asap rokok, maka pembelanjaan uang untuk rokok berarti melakukan perbuatan mubadzir (pemborosan) yang dilarang dalam Al Qur,an 17:26-27)
f.Merokok bertentangan dengan unsur-unsur tujuan syari'ah yaitu (1) perlindungan agama, (2) perlindungan jiwa/raga, (3) perlndungan akal, (4) perlindungan keluarga, dan (5) perlindungan harta.


3. Mereka yang belum atau tidak merokok wajib menghindarkan diri dan keluarganya dari percobaan merokok sesuai dengan Al Qur'an 66:6 yang menyatakan, "Wahai orang-orang beriman hindarkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka."

4. Mereka yang telah terlanjur menjadi perokok wajib melakukan upaya dan berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk berhenti dari kebiasaan merokok dengan mengingat Al Qur'an 29:69 dan 2:286.

5. Fatwa ini diterapkan dengan mengingat prinsip at-tadry (berangsur), at-taisyr (kemudahan), dan adam al-Yaraj (tidak mempersulit)

6. Dengan dikeluarkannya fatwa ini, maka fatwa-fatwa tentang merokok yang sebelumnya telah dikeluarkan oleh Majlis Tarjih dan Tajid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dinyatakan tidak berlaku.


Difatwakan di Yogyakarta
pada hari Senin 22 Robi'ul Awal 1431 H
bertepatan dengan 08 Maret 2010


            Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah


Ketua,                                                       Sekretaris,


Prof.Dr.H.Syamsul Anwar, M.A.          Drs.H.Dahlan, M.Si


Lampiran Kutipan Ayat-ayat Al Qur'an:

1.


surah / surat : Al-A'raf Ayat : 157
alladziina yattabi'uuna alrrasuula alnnabiyya al-ummiyya alladzii yajiduunahu maktuuban 'indahum fii alttawraati waal-injiili ya/muruhum bialma'ruufi wayanhaahum 'ani almunkari wayuhillu lahumu alththhayyibaati wayuharrimu 'alayhimu alkhabaa-itsa wayadha'u 'anhum ishrahum waal-aghlaala allatii kaanat 'alayhim faalladziina aamanuu bihi wa'azzaruuhu wanasharuuhu waittaba'uu alnnuura alladzii unzila ma'ahu ulaa-ika humu almuflihuuna
157. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka [574]. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

[574] Maksudnya: dalam syari'at yang dibawa oleh Muhammad itu tidak ada lagi beban-beban yang berat yang dipikulkan kepada Bani Israil. Umpamanya: mensyari'atkan membunuh diri untuk sahnya taubat, mewajibkan kisas pada pembunuhan baik yang disengaja atau tidak tanpa membolehkan membayar diat, memotong anggota badan yang melakukan kesalahan, membuang atau menggunting kain yang kena najis.


2.
surah / surat : Al-Baqarah Ayat : 195
wa-anfiquu fii sabiili allaahi walaa tulquu bi-aydiikum ilaa alttahlukati wa-ahsinuu inna allaaha yuhibbu almuhsiniina
195. Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
3.
surah / surat : An-Nisaa Ayat : 29
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu laa ta/kuluu amwaalakum baynakum bialbaathili illaa an takuuna tijaaratan 'an taraadin minkum walaa taqtuluu anfusakum inna allaaha kaana bikum rahiimaan
29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu [287]; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

[287] Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan.



surah / surat : Al-Israa' Ayat : 26
waaati dzaa alqurbaa haqqahu waalmiskiina waibna alssabiili walaa tubadzdzir tabdziiraan
26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

surah / surat : Al-Israa' Ayat : 27
inna almubadzdziriina kaanuu ikhwaana alsysyayaathiini wakaana alsysyaythaanu lirabbihi kafuuraan
27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
4.
surah / surat : Al-'Ankabuut Ayat : 29
a-innakum lata/tuuna alrrijaala wataqtha'uuna alssabiila wata/tuuna fii naadiikumu almunkara famaa kaana jawaaba qawmihi illaa an qaaluu i/tinaa bi'adzaabi allaahi in kunta mina alshshaadiqiina
29. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun [1150] dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar".
5.
surah / surat : Al-Baqarah Ayat : 286
laa yukallifu allaahu nafsan illaa wus'ahaa lahaa maa kasabat wa'alayhaa maa iktasabat rabbanaa laa tu-aakhidznaa in nasiinaa aw akhtha/naa rabbanaa walaa tahmil 'alaynaa ishran kamaa hamaltahu 'alaa alladziina min qablinaa rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihi wau'fu 'annaa waighfir lanaa wairhamnaa anta mawlaanaa faunshurnaa 'alaa alqawmi alkaafiriina
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

TAMBAHAN:

Gangguan tubuh akibat rokok





Anak-anak yang menjadi perokok








Anekdot

Beberapa kebaikan yang akan dialami perokok:
 
 1. Akan kelihatan selalu muda karena  sejak muda sudah meninggal dunia.
2. Tidak akan kedatangan maling di malam hari karena di malam hari batuk terus, sehingga maling 
    pun tidak mau masuk sebab tahu pemilik rumah belum tidur.
3. Tidak akan digigit anjing galak sebab kalau dikejar anjing dia akan jongkok tidak kuat berlari   
    sehingga anjing pun akan berhenti mengejarnya.





Thursday, July 5, 2012

DZIKIR, PIKIR DAN SYUKUR



DZIKIR, PIKIR, DAN SYUKUR
SEBAGAI SARANA MEMPERTEGUH IMAN

MUKADDIMAH

M
anusia adalah makhluk Allah yang dikaruniai akal sebagai perangkat yang sangat penting dalam rangka pemanfaatan alam. Sebagai makhluk pemilik akal, manusia dalam Al Qur’an disebut  dengan sebutan “ulil albab” yang artinya pemilik akal, pemilik pikiran, pemilik  pengertian, atau pemilik  kebijaksanaan.

            Dalam surat Ali Imran ayat 190 dan 191 Allah berfirman:

surah / surat : Ali Imran Ayat : 190
inna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi waikhtilaafi allayli waalnnahaari laaayaatin li-ulii al-albaabi

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
surah / surat : Ali Imran Ayat : 191
alladziina yadzkuruuna allaaha qiyaaman waqu'uudan wa'alaa junuubihim wayatafakkaruuna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa 'adzaaba alnnaari

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Ciri-ciri orang  yang berakal, atau yang disebut oleh Allah dengan “ulil albab” yaitu :
1. Selalu dzikir (ingat) kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi.
2. Selalu memikirkan tentang penciptaan makhluk yang ada di langit dan di bumi.
3. Selalu bersyukur sebagai manipestasi dari kesadaran atas keagungan Maha Pencipta.

A. DZIKIR

Menurut bahasa, dzikir artinya ingat. Dalam hal ini ingat kepada Allah SWT. Dalam bentuk lisan, dzikir adalah mengucapkan “Laa Ilaaha illallah” (Tidak ada
tuhan selain Allah). Namun pernyataan lisan saja tidak ada artinya kalau tidak diikuti dengan amal perbuatan yang sesuai dengan makna pernyataan yang diucapkan.

       Dalam pengertian yang seluas-luasnya, dzikir adalah memperhatikan kejadian alam sehingga akhirnya menyadari bahwa seluruh makhluk itu diciptakan oleh Al Kholik untuk dimanfaatkan oleh manusia dalam rangka pengabdian kepada-Nya.

Dzikir itu laksana tali yang menghubungkan antara diri kita dengan Al Kholik. Jika tali itu terputus maka hidup ini akan kehilangan kendali bagaikan layang-layang putus tali yang hanya bergerak mengikuti arah angin.

       Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 152  

surah / surat : Al-Baqarah Ayat : 151
kamaa arsalnaa fiikum rasuulan minkum yatluu 'alaykum aayaatinaa wayuzakkiikum wayu'allimukumu alkitaaba waalhikmata wayu'allimukum maa lam takuunuu ta'lamuuna

151. Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni'mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
     

       Dalam sebuah hadis Qudsi Rosulullah bersabda
قال الله تبارك وتعالی وإذا تقرب مني شبرا تقربت ذراعا       
       Artinya:
       Telah berfirman Allah Yang Maha Suci dan Maha Luhur, “Apabila ia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku-pun mendekat kepadanya sehasta”. (Hadis Riwayat Bukhori dan Muslim)

       Allah itu Maha Mulia, maka alangkah terhormatnya orang yang selalu diingat oleh Allah Yang Maha Mulia. Diingat oleh Allah itu artinya senantiasa mendapatkan rahmat-Nya tanpa terputus.
  
 Dzikir atau ingat kepada Allah itu merupakan urusan hati yang indikatornya bisa terlihat dari amal perbuatan yang ditampakkannya.

       Allah berfirman dalam surat Al A’rof ayat 205:


surah / surat : Al-A'raf Ayat : 205
waudzkur rabbaka fii nafsika tadharru'an wakhiifatan waduuna aljahri mina alqawli bialghuduwwi waal-aasaali walaa takun mina alghaafiliina
205. Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

B. P I K I R

       Manusia berpikir dengan menggunakan potensi akal sehat yang dimilikinya.
Produk berpikir adalah berupa ilmu pengetahuan, dan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya manusia akan ma’rifat kepada Allah, jika dikehendaki-Nya.
      
       Itulah sebabnya banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menganjurkan kepada manusia agar berpikir dengan akalnya. Allah sangat menghargai kepada orang-orang yang mau berpikir.
 Rosulullah s.a.w. bersabda:
تفکرا ساعة خير من عباد ة سنة ( رواه إبن حبان )                               
       Artinya:
                               Berpikir sesaat itu lebi baik daripada beribadah setahun (Riwayat Ibnu Hibban).
       Allah berfirman dalam surat Al Mujadalah (58) ayat 11: :
surah / surat : Al-Mujaadilah Ayat : 11
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu idzaa qiila lakum tafassahuu fii almajaalisi faifsahuu yafsahi allaahu lakum wa-idzaa qiila unsyuzuu faunsyuzuu yarfa'i allaahu alladziina aamanuu minkum waalladziina uutuu al'ilma darajaatin waallaahu bimaa ta'maluuna khabiirun
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

       Yang menjadi obyek berpikir adalah makhluk ciptaan Allah karena akal manusia
tidak  mungkin memikirkan dzat Allah sebab Ia berada di luar jangkauan akal  serta tidak mungkin bisa dianalisis secara empiri oleh pemikiran manusia.

       Rosulullah bersabda:
  تفكروا في خلق الله ولا تفكروا فى الله  ( رواه البيهقی )
       Artinya:
       Berpikirlah kamu tentang makhluk ciptaan Allah dan janganlah kamu berpikir tentang dzat Allah. (Riwayat Abu Na’im dan Baihaki).

       Tanda-tanda kebesaran Allah bisa terlihat pada alam semesta dan pada diri kita

 Firman Allah dalam suarat Fusshilat (41) ayat 53:


surah / surat : Fushshilat Ayat : 53
sanuriihim aayaatinaa fii al-aafaaqi wafii anfusihim hattaa yatabayyana lahum annahu alhaqqu awa lam yakfi birabbika annahu 'alaa kulli syay-in syahiidun

53. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
       Allah menganjurkan agar manusia mulai berpikir dari obyek yang paling dekat yaitu dirinya sendiri kemudian benda-benda yang ada di sekitarnya akhirnya sampai kepada pemikiran yang menyeluruh terhadap seluruh alam semesta.


C. SYUKUR

       Berpikir merupakan  proses perenungan terhadap ciptaan Allah, sedangkan bersyukur   adalah memanfaatkan    segala ciptaan Allah itu sesuai  dengan
kehendak Pencipta-Nya. Semua karunia Allah itu perlu diolah dengan akal manusia agar kenikmatannya bisa bertambah.
     
 Dalam kaitan itulah Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7 :
surah / surat : Ibrahim Ayat : 7
wa-idz ta-adzdzana rabbukum la-in syakartum la-aziidannakum wala-in kafartum inna 'adzaabii lasyadiidun
7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


       Ayat-ayat mengenai syukur dalam Al Qur’an bisa ditemukan lebih dari 60 ayat di antaranya An Nisa (4): 147; Luqman (31): 12; An Nahl (16): 114 dan sebagainya.

       Seseorang belum disebut bersyukur kepada Allah, kalau kenikmatan yang diperolehnya itu belum dimanfaatkan untuk sesuatu yang diridoi Allah. Jadi apabila nikmat yang diberikan Allah itu digunakan untuk sesuatu tindakan yang dibenci oleh Allah atau dengan kata lain untuk maksiat kepada-Nya,maka orang demikian berarti mengingkari kenikmatan itu sendiri yang dalam terminologi Islam disebut dengan kufur nikmat.

       Kalau kenikmatan itu berupa harta kekayaan maka hartanya akan dibelanjakan di jalan Allah. Kalau kenikmatan itu berupa ilmu maka ilmunya akan diamalkan untuk kemaslahatan dirinya dan manusia di sekitarnya. Dan kalau kenikmatan itu berupa pangkat dan kedudukan, maka kedudukan itu akan dimanfaatkan sebagai medan beramal salih dalam rangka pengabdian kepada Allah.

       Sungguh banyak karunia Allah yang telah diberikan kepada kita. Dan sungguh banyak pula nikmat Allah yang belum tersyukuri.

Firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 34:

surah / surat : Ibrahim Ayat : 34
waaataakum min kulli maa sa-altumuuhu wa-in ta'udduu ni'mata allaahi laa tuhsuuhaa inna al-insaana lazhaluumun kaffaarun
34. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni'mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni'mat Allah).

       Dalam surat Luqman ayat 27 Allah berfirman

surah / surat : Luqman Ayat : 27
walaw annamaa fii al-ardhi min syajaratin aqlaamun waalbahru yamudduhu min ba'dihi sab'atu abhurin maa nafidat kalimaatu allaahi inna allaaha 'aziizun hakiimun
27. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah [1184]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

[1184] Yang dimaksud dengan "Kalimat Allah" ialah: Ilmu-Nya dan Hikmat-Nya.





KHATIMAH

       Dzikir, pikir, dan syukur merupakan trilogi yang saling berkait erat dan tidak bisa terpisahkan satu sama lain. Orang yang berdzikir pasti akan berpikir dan bersyukur. Sebaliknya pula orang yang tidak pernah berdzikir – tidak pernah ingat kepada Allah – tidak mungkin mau berpikir tentang kebesaran Allah dan tidak pula akan bersyukur atas segala karunia-Nya.

       Orang yang selalu ingat kepada Allah, pasti akan senantiasa menjaga segala perbuatannya dari tindakan-tindakan yang tidak diridoi-Nya. Dia akan memanfaatkan seluruh potensi dirinya, baik raga maupun jiwanya, untuk melasanakan ketaatan kepada Allah. Di kala ia mendapat kenikmatan, ia akan bersyukur dan di kala mendapat musibah ia akan bersabar.

       Bagaimana agar kita bisa mensyukuri nikmat Allah yang ada pada diri kita? Kita akan dapat mensyukuri nikmat, kalau nikmat yang kita miliki itu kita perbandingkan dengan nikmat yang lebih rendah yang ada pada orang lain.  Misalnya, kesehatan yang kita miliki, baru bisa kita sadar bahwa itu merupakan nikmat yang harus disyukuri, kalau kita perbandingkan dengan perasaan orang yang terganggu kesehatannya. Orang yang sakit matanya sebelah, masih akan bersyukur kalau ia perbandingkan dengan orang yang sakit kedua belah matanya.

Apabila karunia Allah yang ada pada kita diperbandingkan dengan karunia yang diberikan Allah kepada orang lain yang secara kuantitas dan kualitas lebih tinggi, maka kita akan merasakan bahwa karunia Allah pada diri kita selalu terasa sedikit jumlahnya. Hal inilah yang membuat kita lupa mensyukuri nikmat yang telah ada.

            Dalam hubungan itulah Rosulullah telah berpesan:
انظر إلى من هو اسفل منکم ولا تنظر إلی من هو فوقکم فهو ٱجدر ٱن لاتزدروا نعمة الله عليکم )رواه البخاري ومسلم )
           
Artinya:
 Pandanglah kepada orang yang lebih rendah daripada kamu, dan janganlah selalu memandang kepada orang yang di atas kamu, agar kamu tidak memandang kecil terhadap nikmat Allah atasmu. (Riwayat Bukhori dan Muslim).

       Dalam hal anugerah Allah yang diberikan kepada kita, hendaknya tidak kita perbandingkan dengan anugerah Allah yang ada pada orang lain yang mungkin lebih besar dan lebih banyak jumlahnya. Karena kalau anugerah Allah itu kita bandingkan dengan yang ada pada orang lain yang lebih besar, maka kita merasa belum mendapatkan apa-apa. Kita akan selalu merasa kekurangan, sehingga kita lupa mensykuri anugerah yang sudah ada pada diri kita. Demikian pula seandainya kita melakukan sesuatu kesalahan, janganlah diperbandingkan dengan kesalahan orang lain yang lebih besar, tapi bandingkanlah dengan kesalahan orang yang lebih kecil. Kalau kesalahan itu kita perbandingkan dengan yang lebih besar, maka kita merasa seolah-olah kesalahan kita itu tidak berarti apa-apa, sehingga kita tidak memiliki niat untuk memperbaiki diri .

                                    Mudah-mudahan Allah menggabungkan kita dengan orang-orang yang senantiasa mesyukuri nikmat-Nya.

اللهم ٱعني على ذكرك وشكرك وحسن عباد تك ٠
ربي اوزعني ٱن ٱشكر نعمتك التي ٱنعمت علي وعلى والدي وٱن ٱعمل صالحا ترضاه وٱدخلني برحمتك في عبادك الصالحين ٠
ٱمين يامجيب السائلين  يا غفور الرحيم ٭